misa.lagu-gereja.com
 
Senin, 18 Maret 2024
Sirillus dr Yerusalem
Dan. 13:1-9.15-17.19-30.33-62; atau Dan. 13:41c-62; Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6;
Yohanes 8:1-11
BcO Bilangan 12:16-13:3.17-33
Warna Liturgi Ungu


Yohanes 8:1-11
8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. 8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" 8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." 8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" 8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Penjelasan:

* Tuhan Memberikan Kesempatan Kedua
Pemimpin-pemimpin agama tetap menolak untuk percaya kepada Yesus. Tetapi, mereka tidak punya alasan yang kuat untuk menyingkirkan Yesus. Ketika mereka menangkap basah pasangan yang berzinah, mereka segera membawa perempuannya. Tidak dapat dipastikan apakah perempuan ini sudah bersuami atau belum. Kita juga tidak diberi tahu mengapa mereka tidak membawa laki-lakinya. Tetapi, dari ayat 6, jelas sekali bahwa tujuan pemimpin-pemimpin agama bukanlah untuk menghukum pasangan yang berzinah ini, melainkan untuk menjebak Tuhan Yesus.

Mengapa? Jika Yesus menolak untuk melempari perempuan ini dengan batu, maka pemimpin agama dapat menuduh Yesus menentang hukum Musa. Dengan demikian, mereka dapat membawa Yesus ke pengadilan agama Yahudi. Sebaliknya jika Yesus setuju agar perempuan ini dilempari dengan batu hingga mati, maka mereka akan membawanya ke hadapan pemerintah Romawi. Bangsa Yahudi sebagai jajahan Romawi tidak berhak menghukum mati manusia. Hak ini hanya ada pada pemerintah Romawi. Jebakan seperti ini mirip dengan yang dicatat dalam Markus 12:13-17. Bagaimana Tuhan Yesus harus menjawab mereka? Ia mengatakan perempuan ini boleh dilempari batu oleh orang-orang yang tidak berdosa (ayat 7). Tuhan Yesus tidak bermaksud bahwa hakim-hakim yang mengadili di pengadilan harus tanpa dosa. Bila prinsip ini diterapkan maka tidak ada yang dapat menjadi hakim. Tuhan Yesus mengatakan pernyataan yang keras ini karena Ia menuntut agar mereka yang hendak melempari perempuan ini dengan batu jangan pernah terlibat dalam dosa seksual. Mendengar tuntutan ini, mereka yang menuduh perempuan itu pulang meninggalkan perempuan tersebut sebagai tertuduh.

Dalam narasi ini kita mendapatkan dua pelajaran penting. Pertama, semua manusia berdosa, tidak terkecuali bangsa Yahudi yang menganggap diri sebagai umat pilihan Allah. Kedua, Yesus sama sekali tidak berdosa. Ia tidak meremehkan dosa perempuan itu, melainkan Ia memberikan kesempatan kedua kepada perempuan itu. Yesus yang tanpa dosa menampakkan diri sebagai orang yang penuh rahmat dan anugerah.

* Perempuan yang Kedapatan Berbuat Zinah (8:1-11)

Meskipun sudah dilecehkan dengan begitu hina, seperti kita lihat dalam pasal sebelumnya, baik oleh para pemimpin maupun oleh orang banyak, di sini kita mendapati Kristus masih saja berada di Yerusalem, masih berada di Bait Allah. Berkali-kali Dia rindu mengumpulkan mereka!

Perhatikanlah:
I. Bagaimana Dia mengundurkan diri pada malam hari ke tempat yang sunyi di luar kota (ay. 1):
Yesus pergi ke bukit Zaitun. Entah Dia pergi ke rumah teman, entah ke kemah yang didirikan di sana selama perayaan Pondok Daun, tidaklah pasti. Entah Dia beristirahat di sana, atau, seperti menurut dugaan sebagian orang, berdoa sepanjang malam kepada Allah, kita tidak diberi tahu. Tetapi Dia pergi dari Yerusalem mungkin karena di sana Dia tidak mempunyai teman yang cukup baik atau berani untuk menyediakan tempat bermalam. Sementara para penganiaya-Nya mempunyai rumah sendiri untuk pulang (7:53), Dia bahkan tidak dapat meminjam tempat untuk menyandarkan kepala-Nya, dan untuk mendapatkannya Dia harus pergi sejauh dua atau tiga kilometer ke luar kota. Dia menyendiri, (seperti menurut sebagian orang) karena Dia tidak mau membiarkan diri-Nya terbuka untuk diserang oleh amukan massa pada malam hari. Adalah bijak jika kita menghindar dari bahaya kapan saja kita dapat melakukannya tanpa menghindar dari kewajiban. Pada siang hari, ketika ada pekerjaan untuk dilakukan-Nya di Bait Allah, Dia rela menunjukkan diri-Nya, dan Dia mendapat perlindungan khusus (Yes. 49:2). Tetapi pada malam hari, ketika tidak ada pekerjaan untuk dilakukan, Dia mengundurkan diri ke tempat sunyi di desa dan berlindung di sana.

II. Kembalinya Dia pada pagi hari ke Bait Allah,
dan kepada pekerjaan yang harus dilakukan-Nya di sana (ay. 2).

Perhatikanlah:
. Betapa Ia menjadi seorang pengkhotbah yang begitu tekun: Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan mengajar. Walaupun sudah mengajar pada hari sebelumnya, masih juga Ia mengajar pada hari ini. Kristus adalah pengkhotbah yang setia, Dia tetap berkhotbah tanpa memandang waktu. Ada tiga hal yang diperhatikan di sini mengenai pengajaran Kristus.

(1) Waktunya: pagi-pagi benar. Meskipun bermalam di luar kota, dan mungkin menghabiskan sebagian besar waktu malam untuk berdoa secara pribadi, masih sempat juga Ia datang pagi-pagi benar. Apabila ada satu hari pekerjaan yang harus dilakukan bagi Allah dan jiwa-jiwa, maka baiklah kita memulainya dengan segera, dan memanfaatkan sebaik mungkin hari yang ada di hadapan kita.

(2) Tempatnya: di Bait Allah. Bukan karena Bait Allah adalah tempat yang dikuduskan (sebab seandainya demikian, Dia pasti akan mengajar di sana pada waktu-waktu lain), melainkan terlebih karena tempat itu sekarang menjadi tempat orang banyak berkumpul. Dengan berbuat demikian Dia hendak memberikan restu-Nya bagi perkumpulan khidmat yang dilakukan untuk beribadah, dan mendorong orang untuk datang ke Bait Allah, sebab Dia belum meninggalkannya dan menjadikannya tempat yang sunyi.

(3) Sikap tubuh-Nya: Dia duduk, dan mengajar, sebagai orang yang berkuasa, dan sebagai orang yang berniat untuk tinggal di sana selama beberapa waktu.

. Betapa pengajaran-Nya diikuti dengan begitu tekun oleh orang banyak: seluruh rakyat datang kepada-Nya, dan mungkin banyak dari antara mereka adalah orang-orang desa. Mungkin pada hari ini mereka akan kembali ke tempat mereka setelah merayakan pesta ini, dan karena itu ingin mendengarkan satu khotbah lagi dari mulut Kristus sebelum pulang. Mereka datang kepada-Nya, meskipun Dia datang pagi-pagi benar. Orang-orang yang mencari-Nya pagi-pagi benar pasti akan mendapatkan-Nya. Sekalipun para pemimpin tidak senang kepada mereka yang datang untuk mendengarkan-Nya, mereka tetap datang. Dan Dia mengajar mereka, meskipun para pemimpin itu marah kepada-Nya juga. Sekalipun hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada dari antara mereka yang merupakan orang-orang terhormat, Kristus tetap menyambut mereka dan mengajar mereka.

III. Bagaimana Dia menangani orang-orang yang membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah,
untuk mencobai Dia. Bukan hanya tidak mau sabar mendengarkan Kristus, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu malahan mengganggu-Nya ketika orang banyak sedang mendengarkan Dia berbicara.

Perhatikanlah di sini:

. Permasalahan yang diajukan kepada-Nya oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang dengan ini berusaha mencari gara-gara dengan-Nya dan untuk menjerat-Nya ke dalam perangkap mereka (ay. 3-6).

(1) Mereka menyeret si terdakwa untuk diadili (ay. 3): mereka membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, yang mungkin baru saja ditangkap, selama perayaan Pondok Daun. Perbuatan ini mungkin saja terjadi karena orang-orang yang berpikiran jahat, yang merusakkan hal-hal terbaik, ketika sedang berdiam di kemah-kemah dan merayakan pesta ini dengan sukacita, justru malah memanfaatkan kesempatan itu untuk berbuat dosa. Orang-orang yang kedapatan berbuat zinah harus dihukum mati menurut hukum Yahudi, yang pelaksanaannya diperbolehkan oleh penguasa-penguasa Romawi. Itulah sebabnya perempuan ini dibawa ke hadapan pengadilan agama. Amatilah, dia kedapatan berbuat zinah. Meskipun perzinahan merupakan perbuatan gelap, yang biasanya berusaha disembunyikan sedapat mungkin oleh para pelakunya, kadang-kadang secara mengherankan diketahui juga. Orang-orang yang mengira bahwa mereka bisa berbuat dosa tanpa bisa diketahui, menipu diri mereka sendiri. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa perempuan itu kepada Kristus, dan menempatkannya di tengah-tengah jemaat, seolah-olah mereka menyerahkan dia seluruhnya kepada penghakiman Kristus, karena Dia sudah duduk, seperti sang hakim di atas kursi pengadilannya.

(2) Mereka ingin mendakwa perempuan itu: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah" (ay. 4). Di sini mereka memanggil-Nya Rabi, padahal sehari sebelumnya mereka menyebut diri-Nya penipu. Dengan puji-pujian, mereka berharap dapat menjerat-Nya, seperti yang diperbuat orang-orang dalam Lukas 20:20. Akan tetapi, meskipun manusia bisa terpedaya oleh pujian-pujian, Dia yang menyelidiki hati tidak dapat.

- Kejahatan yang dituduhkan kepada terdakwa itu sepenuhnya adalah perbuatan perzinahan, yang bahkan pada masa bapa leluhur Yahudi, sebelum hukum Taurat Musa, telah dipandang sebagai kejahatan yang patut dihukum oleh hakim (Ayb. 31:9-11; Kej. 38:24). Orang-orang Farisi, yang dengan berapi-api ingin mengadili pelanggar hukum ini, tampak mempunyai semangat yang besar untuk menentang dosa ini, namun setelah itu tampak bahwa mereka sendiri sebenarnya tidak luput dari dosa itu. Bahkan lebih dari itu, di bagian dalam mereka penuh dengan pelbagai jenis kotoran (Mat. 23:27-28). Perhatikanlah, adalah biasa bagi orang-orang yang bersikap lunak terhadap dosa mereka sendiri untuk bersikap keras terhadap dosa orang lain.

- Bukti dari kejahatan itu didasarkan pada fakta yang diketahui semua orang, sebuah bukti yang tidak dapat disanggah. Dia tertangkap basah, sehingga tidak ada ruang baginya untuk mengajukan pembelaan tidak bersalah. Seandainya dia tidak tertangkap basah kali ini, mungkin dia akan terus berbuat hal yang sama lagi, sampai hatinya menjadi benar-benar keras. Memang, kadang-kadang dosa yang terkuak itu justru menjadi berkat bagi si pendosa itu sendiri, supaya jangan tambah menjadi-jadi ia melakukan dosanya itu. Lebih baik dosa kita itu mempermalukan kita daripada mengutuk kita. Lebih baik dosa itu dibentangkan di hadapan kita untuk meyakinkan diri kita akan kebersalahan kita, daripada nantinya dibentangkan untuk membinasakan kita.

(3) Mereka menunjukkan hukum yang sudah dibuat dan disediakan untuk kasus seperti ini, yang berdasarkan hukum itu perempuan itu didakwa (ay. 5). Musa memerintahkan untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Musa memerintahkan agar mereka dihukum mati (Im. 20:10; Ul. 22:22), tetapi tidak dengan dirajam, kecuali jika perempuan yang kedapatan berzinah itu sudah bersuami, tidak menikah, atau anak seorang imam (Ul. 22:21). Perhatikanlah, perzinahan adalah dosa yang sangat berat, sebab perzinahan merupakan pemberontakan hawa nafsu yang cemar, bukan hanya terhadap perintah Allah kita melainkan juga terhadap kovenan-Nya. Dosa ini merupakan pelanggaran terhadap kemurnian ketetapan ilahi yang dilakukan dengan menuruti salah satu hawa nafsu manusia yang paling rendah dalam kemerosotannya.

(4) Mereka meminta penghakiman-Nya dalam kasus ini: "Apakah pendapat-Mu, yang mengaku sebagai guru yang diutus oleh Allah untuk membatalkan hukum-hukum lama dan mendirikan hukum-hukum baru? Apakah pendapat-Mu tentang hal ini?" Seandainya mereka mengajukan pertanyaan ini dengan tulus, dengan kerendahan hati dan keinginan untuk mengetahui pikiran-Nya, maka itu sangat patut dipuji. Orang-orang yang diberi kepercayaan untuk menjalankan keadilan harus datang kepada Kristus dan meminta bimbingan-Nya. Akan tetapi, mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya (ay. 6).

- Jika Dia meneguhkan penghakiman hukum Taurat itu, dan membiarkannya terlaksana, maka mereka akan mencela-Nya sebagai orang yang tidak sejalan dengan diri-Nya sendiri (yang telah menerima para pemungut cukai dan perempuan sundal). Ia akan dianggap tidak sejalan dengan sifat-sifat Mesias, yang seharusnya lemah lembut, membawa keselamatan, dan memberitakan tahun pembebasan. Dan mungkin mereka akan mendakwa-Nya di hadapan gubernur Romawi, karena Dia membolehkan orang-orang Yahudi menjalankan penghukuman yang merupakan hak lembaga pengadilan.

Namun sebaliknya,
- Jika Dia membebaskan perempuan itu, dan berpendapat bahwa penghukuman itu tidak boleh dilaksanakan (seperti yang sudah mereka duga akan diperbuat-Nya), maka mereka akan memandang-Nya,

pertama,
sebagai musuh bagi hukum Musa dan sebagai orang yang hendak merampas kuasa untuk memperbaiki dan mengendalikan hukum itu. Hal ini akan memperkuat prasangka buruk orang terhadap-Nya yang dengan begitu gencar disebarkan oleh musuh-musuh-Nya, yaitu bahwa Dia datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.

Kedua,
Ia akan dipandang sebagai sahabat orang-orang berdosa, dan karena itu juga sebagai orang yang mendukung perbuatan dosa. Apabila tampaknya Dia tidak mengindahkan kejahatan seperti itu, dan membiarkannya tidak dihukum, maka mereka akan memandang-Nya sebagai orang yang menyetujui kejahatan itu dan sebagai pendukung kejahatan. Kalau Ia sampai dianggap sebagai pelindung para penjahat, maka ini merupakan sebuah hinaan yang paling menyakitkan bagi orang yang mengaku menjalankan keketatan, kemurnian, dan pekerjaan seorang nabi.

. Cara yang dipakai-Nya untuk memecahkan kasus ini, dan dengan demikian untuk menghancurkan perangkap ini.

(1) Dia tampak tidak menghiraukan masalah ini dan berpura-pura tuli: Dia membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Mustahil untuk mengatakan, dan karena itu tidak perlu untuk menanyakan, apa yang ditulis-Nya. Tetapi inilah satu-satunya kejadian mengenai Kristus menulis sesuatu yang disebutkan dalam kitab-kitab Injil. Mengenai apa yang ditulis-Nya ini, Theolog Eusebius pernah menyinggungnya kepada Abgarus, raja Edesa. Sebagian orang berpendapat bahwa mereka bebas mereka-reka apa yang ditulis-Nya di sini. Menurut Grotius, apa yang ditulis-Nya itu adalah perkataan yang sangat berat dan bermakna, dan bahwa biasa bagi orang-orang bijak, ketika mereka sedang memikirkan dalam-dalam mengenai hal apa saja, untuk berbuat demikian. Jerome dan Ambrose menduga Dia menulis, "Biarlah nama-nama orang jahat ini dituliskan di dalam debu tanah." Yang lain menduga ini, "Bumi mendakwa bumi, tetapi penghakiman adalah hak-Ku." Kristus dengan ini mengajar kita untuk tidak gegabah dalam berbicara ketika kita diperhadapkan pada persoalan-persoalan yang sulit, untuk tidak cepat-cepat melesatkan anak panah kita. Dan ketika kita dipanas-panasi atau diolok-olok, kita harus berhenti sejenak dan mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum kita memberikan tanggapan. Berpikirlah dua kali sebelum kita berbicara sekali: Hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya. Terjemahan King James yang saya pakai didasarkan pada beberapa salinan naskah Yunani, yang menambahkan mÄ” prospoioumenos (meskipun sebagian besar salinan tidak memilikinya), memberikan penjelasan ini sebagai alasan mengapa Dia menulis di tanah, seolah-olah Dia tidak mendengar mereka. Dia seakan-akan membuang muka, untuk menunjukkan bahwa Dia tidak mau memperhatikan permintaan mereka, dan dengan demikian seolah-olah berkata, "Siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Dalam banyak kasus, aman bagi kita untuk menutup telinga terhadap apa yang tidak aman untuk dijawab (Mzm. 38:14). Kristus tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya melibatkan diri dalam perkara-perkara duniawi. Lebih baik mereka menyibukkan diri dengan mempelajari apa saja yang benar, dan mengisi waktu mereka dengan menulis di tanah (yang tidak akan diperhatikan oleh siapa pun), daripada menyibukkan diri dengan hal-hal yang bukan urusan mereka. Akan tetapi, walaupun Kristus tampak seolah-olah tidak mendengar mereka, Dia memperlihatkan bahwa Dia tidak hanya mendengar perkataan mereka tetapi juga mengetahui pikiran-pikiran mereka.

(2) Ketika mereka bersikeras, atau lebih tepatnya kurang ajar, mendesak Dia untuk memberikan jawaban, Dia membalikkan kebersalahan terdakwa kepada para pendakwanya (ay. 7).

- Mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya,
dan perbuatan-Nya yang tampak tidak memperhatikan mereka justru membuat mereka semakin gencar. Sebab sekarang mereka menyangka bahwa mereka sudah berhasil memojokkan-Nya, dan bahwa Dia tidak dapat menghindar dari tuduhan menentang baik itu hukum Musa, jika Dia membebaskan si terdakwa, ataupun ajaran belas kasihan dan pengampunan yang disampaikan-Nya sendiri, jika Dia menghukumnya. Dan karena itu, mereka terus mendesak-Nya dengan gencar. Padahal mereka seharusnya mengartikan ketidakpedulian-Nya itu sebagai teguran terhadap rancangan jahat mereka, dan sebagai petunjuk bagi mereka untuk menghentikan perbuatan mereka ini, sebab mereka hanya akan memudarkan nama baik mereka sendiri.

- Pada akhirnya, Dia mempermalukan mereka semua dan membungkam mereka dengan satu perkataan:
Ia pun bangkit berdiri, seperti orang yang baru bangun tidur (Mzm. 78:65), dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Pertama,
di sini Kristus menghindar dari perangkap yang telah mereka pasang untuk-Nya, dan berhasil menyelamatkan nama baik-Nya sendiri. Dia tidak meremehkan hukum Taurat ataupun membenarkan kesalahan si terdakwa. Pada sisi lain, Ia tidak mendorong mereka untuk terus menghakimi dan pada saat yang sama juga tidak membakar panas hati mereka. Lihatlah dampak baik yang ditimbulkan dari pertimbangan yang matang. Apabila kita tidak dapat sampai pada tujuan dengan mengambil jalan langsung, maka sebaiknya kita mengambil kompas untuk menunjukkan arahnya.

Kedua,
jaring yang mereka tebarkan menjerat kaki mereka sendiri. Mereka datang dengan rancangan untuk mendakwa-Nya, namun ternyata mereka sendiri yang dipaksa untuk mendakwa diri sendiri. Kristus mengakui bahwa si terdakwa pantas dihukum, namun Dia meminta mereka untuk mendengarkan suara hati nurani mereka sendiri apakah mereka yang pantas menjadi penghukumnya.

a. Di sini Dia merujuk pada peraturan yang ditentukan oleh hukum Musa dalam menghukum para penjahat, bahwa saksi-saksi itulah yang pertama-tama menggerakkan tangan mereka (Ul. 17:7), seperti ketika Stefanus dilempari batu (Kis. 7:58). Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah para saksi atas perempuan ini. Sekarang Kristus menyerahkan kepada mereka, apakah menurut hukum mereka sendiri, mereka berani menjadi algojo bagi dia. Beranikah mereka mengambil nyawa itu dengan tangan mereka, yang sekarang sedang mereka ambil dengan lidah mereka? Akankah hati nurani mereka sendiri akan berbalik menuduh mereka jika mereka melakukannya atau tidak?

b. Dia berdiri di atas kebenaran yang tidak dapat disangkal dalam hal moral, bahwa sangatlah tidak masuk akal jika orang dengan semangat yang berapi-api ingin menghukum kejahatan orang lain sementara dia sendiri sama bersalahnya atas kejahatan itu. Mereka yang melakukan kejahatan yang sama hanya mengutuki diri sendiri ketika menghakimi orang lain atas kejahatan tersebut: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, tidak berbuat dosa yang serupa, yang tidak pernah sekali pun bersalah atas dosa kecemaran atau perzinahan, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Ini bukan berarti bahwa para hakim, yang sadar bahwa mereka juga bersalah, harus mengabaikan kesalahan orang lain.



BcO Bilangan 12:16-13:3.17-33
 12:16 Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Kedua belas pengintai
13:1 TUHAN berfirman kepada Musa: 13:2 "Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; dari setiap suku nenek moyang mereka haruslah kausuruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka." 13:3 Lalu Musa menyuruh mereka dari padang gurun Paran, sesuai dengan titah TUHAN; semua orang itu adalah kepala-kepala di antara orang Israel.

 13:17 Maka Musa menyuruh mereka untuk mengintai tanah Kanaan, katanya kepada mereka: "Pergilah dari sini ke Tanah Negeb dan naiklah ke pegunungan, 13:18 dan amat-amatilah bagaimana keadaan negeri itu, apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak; 13:19 dan bagaimana negeri yang didiaminya, apakah baik atau buruk, bagaimana kota-kota yang didiaminya, apakah mereka diam di tempat-tempat yang terbuka atau di tempat-tempat yang berkubu, 13:20 dan bagaimana tanah itu, apakah gemuk atau kurus, apakah ada di sana pohon-pohonan atau tidak. Tabahkanlah hatimu dan bawalah sedikit dari hasil negeri itu." Waktu itu ialah musim hulu hasil anggur. 13:21 Mereka pergi ke sana, lalu mengintai negeri itu mulai dari padang gurun Zin sampai ke Rehob, ke jalan yang menuju ke Hamat. 13:22 Mereka berjalan melalui Tanah Negeb, lalu sampai ke Hebron; di sana ada Ahiman, Sesai dan Talmai, keturunan Enak. Hebron didirikan tujuh tahun lebih dahulu dari Soan di Mesir. 13:23 Ketika mereka sampai ke lembah Eskol, dipotong merekalah di sana suatu cabang dengan setandan buah anggurnya, lalu berdualah mereka menggandarnya; juga mereka membawa beberapa buah delima dan buah ara. 13:24 Tempat itu dinamai orang lembah Eskol, karena tandan buah anggur yang dipotong orang Israel di sana. 13:25 Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu, 13:26 dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu. 13:27 Mereka menceritakan kepadanya: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. 13:28 Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. 13:29 Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan." 13:30 Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" 13:31 Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita." 13:32 Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. 13:33 Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."



___



Daftar Label dari Kategori Renungan Katolik 2024
Lagu Anak(1)




Nama-Nama Bayi Katolik Terlengkap

Kalender Liturgi Katolik 2024 dan Saran Nyanyian

Kalender Liturgi Katolik Mei 2024 dan Saran Nyanyian


Orang Kudus Katolik Dirayakan Mei
Santo-Santa 25 Mei - Santo Gregorius VII, Paus dan Pengaku Iman

MAZMUR TANGGAPAN & BAIT PENGANTAR INJIL
- PASKAH
- KENAIKAN
- PENTAKOSTA
- BIASA



NEXT:
Renungan Katolik Selasa, 19 Maret 2024 - Matius 1:16.18-21.24a - BcO Ibrani 11:1-16 - HARI RAYA ST. YOSEF, SUAMI SP. MARIA

PREV:
Renungan Katolik Minggu, 17 Maret 2024 - Yohanes 12:20-33 - BcO Bilangan 12:1-15 - HARI MINGGU PRAPASKAH V





Arsip Renungan Katolik 2024..


Jadwal Misa Gereja Seluruh Indonesia
1. Map/Peta Gereja Katolik di Jakarta
2. Map/Peta Gereja Katolik di Surabaya
3. Map/Peta Gereja Katolik di Makassar
4. Map/Peta Gereja Katolik di Bandung
5. Map/Peta Gereja Katolik di Medan
6. Map/Peta Gereja Katolik di Depok
Agustus - Hati Maria Yang Tidak Bernoda(3)
April - Sakramen Maha Kudus (6)
Bulan Katekese Liturgi(5)
Bulan November - Jiwa-jiwa Kudus di Api penyucian(4)
Bulan Oktober - Bulan Rosario(1)
Bulan Oktober - Bulan Rosario suci(4)
Desember - Bunda Maria yang dikandung tanpa noda(4)
Februari - Keluarga Kudus Yesus Maria Yosep(5)
Ibadah(1)
Januari - Bulan menghormati Nama Yesus(5)
Juli - Darah Mulia(2)
Juni - Hati Kudus Yesus(10)
Maret - Pesta St. Yosep(3)
Mei - Bulan Maria(8)
Penutup Bulan Rosario(1)
Peringatan Arwah(2)
Rabu Abu(1)
SEPTEMBER - TUJUH DUKA MARIA(7)