misa.lagu-gereja.com
 
Sabtu, 11 Mei 2024
Hari Biasa
Pekan VI Paskah
Kis 18:23-28; Mzm 47:2-3.8-9.10;
Yohanes 16:23b-28
BcO Kisah Para Rasul 23:12-35
Warna Liturgi Putih

Baca Juga:

Yohanes 16:23b-28
16:23b Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. 16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. 16:25 Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. 16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, 16:27 sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. 16:28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."

Penjelasan:


* Anjuran untuk Berdoa (16:23-27)

Di sini dijanjikan jawaban atas permintaan-permintaan mereka, guna menghibur mereka lebih lanjut. Sekarang, ada dua cara untuk meminta: meminta dengan bertanya, yaitu bertanya tentang hal-hal yang tidak diketahui, dan meminta dengan memohon, yaitu meminta sesuatu karena kekurangan. Di sini Kristus berbicara mengenai kedua cara tersebut.

I. Dengan cara bertanya. Mereka tidak perlu bertanya (ay. 23):
Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku, ouk erōtÄ”sete ouden -- kamu tidak akan mengajukan pertanyaan. "Kamu akan memahami rahasia-rahasia Injil dengan begitu jelas melalui dibukakannya pengertianmu, hingga kamu tidak perlu lagi bertanya" (seperti dalam Ibr. 8:11, mereka tidak akan mengajar lagi). "Kamu akan tiba-tiba mempunyai pengetahuan, lebih daripada yang kamu miliki selama kamu mengikuti-Ku dengan tekun selama ini." Mereka pernah mengajukan beberapa pertanyaan bodoh (seperti dalam 9:2), beberapa pertanyaan penuh keinginan yang berlebihan (seperti dalam Mat. 18:1), yang mengandung rasa tidak percaya (Mat. 19:27), yang tidak sepatutnya (21:21), yang penuh rasa ingin tahu (seperti dalam Kis. 1:6). Namun, setelah Roh dicurahkan, semua pertanyaan seperti ini tidak diajukan lagi. Di dalam Kisah Para Rasul, kita jarang menemui mereka mengajukan pertanyaan seperti Daud yang bertanya, Apakah aku harus maju? atau, Apakah aku harus pergi? karena mereka senantiasa berada di bawah pimpinan ilahi. Dalam tugas berat memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi, Petrus pergi tanpa bimbang (Kis. 10:20). Mengajukan pertanyaan berarti kita tampak seperti orang kebingungan atau setidaknya mempertahankan diri, dan memang bahkan yang terbaik dari kita pun perlu mengajukan pertanyaan. Namun, pada waktu bertanya, kita harus punya tujuan untuk memahami yang ditanyakan itu sepenuh-penuhnya supaya kita tidak ragu lagi, melainkan senantiasa berdiri di atas jalan kebenaran dan kewajiban.

Untuk hal ini Ia memberikan alasannya (ay. 25), yang dengan jelas merujuk pada janji ini, bahwa mereka tidak akan perlu lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan: "Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan yang sedemikian rupa, yang tidak selugas dan sejelas seperti yang kamu harapkan, tetapi akan tiba saatnya Aku berkata-kata kepadamu dengan terus terang, sejelas yang kamu inginkan, memberitakan Bapa kepadamu, sehingga kamu tidak perlu lagi mengajukan pertanyaan."

. Hal terbesar ke mana Kristus akan membawa mereka adalah pengenalan akan Allah: "Aku akan memberitakan Bapa kepadamu, dan membawa kamu untuk mengenal-Nya." Inilah yang ingin diberikan Kristus dan yang harus ingin dimiliki semua orang Kristen sejati. Waktu Kristus hendak mengutarakan anugerah terbesar yang hendak diberikan-Nya kepada murid-murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka bahwa anugerah itu adalah dengan terus terang memberitakan Bapa kepada mereka. Karena, apakah sebenarnya kebahagiaan sorgawi itu, kecuali segera memandang Allah selamanya? Mengenal Allah sebagai Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus, merupakan rahasia terbesar bagi akal budi kita untuk memahaminya. Dan akal budi bisa memahaminya dengan cara merenungkannya. Dan mengenal Dia sebagai Bapa kita merupakan kebahagiaan terbesar bagi kehendak dan perasaan kita, yaitu dengan cara memilih untuk mengenal Dia dan menikmati pengenalan kita akan Dia.

. Selama ini Ia berbicara kepada mereka melalui perumpamaan, yang mengandung perkataan bijaksana dan penuh pengajaran, namun bersifat kiasan dan umum. Kristus telah berbicara dengan terus terang mengenai banyak hal kepada mereka dan menguraikan perumpamaan-perumpamaan-Nya secara pribadi kepada murid-murid-Nya, tetapi,
            (1) Mengingat kebebalan dan ketidaksigapan mereka dalam menerima apa yang dikatakan-Nya kepada mereka, bisa dikatakan bahwa Ia berbicara dalam perumpamaan. Apa yang dikatakan-Nya kepada mereka bagaikan kitab yang termeterai (Yes. 29:11).
            (2) Dengan membandingkan hal-hal yang telah diungkapkan-Nya kepada mereka, dalam apa yang telah disampaikan-Nya ke telinga mereka, dengan apa yang akan diperbuat-Nya kepada mereka ketika Ia memberikan Roh Kudus di dalam hati mereka, maka sampai saat itu semuanya disampaikan dalam bentuk perumpamaan. Nantinya ketika Roh dicurahkan ke atas mereka, pada saat itu semuanya akan mendatangkan kejutan manis bagi mereka, mereka akan merasa seperti berada di suatu dunia baru, karena saat itu ketika mereka merenungkan semua gagasan yang mereka miliki sebelumnya dan menganggap semua gagasan itu membingungkan dan penuh teka-teki jika dibandingkan dengan pengetahuan yang sekarang mereka miliki dengan jelas mengenai perkara-perkara ilahi. Pelayanan dengan hukum yang tertulis tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelayanan Roh (2Kor. 3:8-11).
            (3) Menyangkut apa yang telah dikatakan-Nya perihal Bapa dan kebijaksanaan-kebijaksanaan Bapa. Semua yang telah dikatakan-Nya mengenai hal-hal tersebut sangatlah gelap, dibandingkan dengan apa yang sebentar lagi akan dinyatakan (Kol. 2:2).
        . Ia akan berkata-kata dengan terus terang kepada mereka, parrÄ”sia -- dengan bebas, tentang Bapa. Ketika Roh dicurahkan, para rasul memperoleh pengetahuan perihal perkara-perkara ilahi yang jauh lebih mendalam daripada sebelumnya, seperti yang tampak melalui perkataan yang diberikan Roh kepada mereka (Kis. 2:4). Mereka dibawa kepada rahasia perkara-perkara yang sebelum itu sangat membingungkan mereka. Apa yang ditunjukkan Roh, itulah yang ditunjukkan Kristus kepada mereka, seperti yang dikatakan di sini, sebab sama seperti Bapa berbicara melalui Anak, begitu pula Anak berbicara melalui Roh. Namun, janji ini akan digenapi dengan sempurna di dalam sorga, di mana kita akan melihat Bapa sebagaimana adanya, muka dengan muka, bukan seperti sekarang ini, seperti melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar (1Kor. 13:12). Hal ini sungguh merupakan penghiburan kepada kita yang sekarang ini ada di bawah awan gelap, yang membuat kita tidak mampu mengatur perkataan kita, malah justru mengacaukannya. Sementara kita masih hidup di sini, kita mempunyai banyak pertanyaan perihal Allah dan dunia yang tidak terlihat, tetapi pada hari itu kita akan melihat semuanya dengan jelas dan tidak perlu bertanya lagi.

II. Ia berjanji bahwa dengan memohon, mereka tidak akan meminta dengan sia-sia.
Dengan sendirinya ini berarti semua murid Kristus harus berserah diri dalam doa. Ia telah mengajar mereka melalui aturan dan teladan-Nya supaya mereka banyak berdoa. Ini harus menjadi penopang serta penghiburan mereka saat Ia meninggalkan mereka. Pengajaran, bimbingan, kekuatan, dan keberhasilan mereka harus diperoleh melalui doa.

    Sekarang:

        . Di sini diberikan janji bahwa permintaan mereka akan dikabulkan (ay. 23). Kata-kata pengantar untuk janji ini demikian pastinya hingga tidak perlu dipertanyakan lagi: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, Aku menjamin kebenaran ucapan-Ku ini." Janji itu sendiri kaya dan manis tidak terkira. Di sini tongkat emas itu diulurkan kepada kita dengan perkataan, Apakah permintaanmu? Niscaya akan dikabulkan. Karena Ia berkata, Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sebelum ini kita telah membacanya dalam pasal 14:13. Jadi apa lagi yang kita butuhkan? Janji itu sepasti yang kita inginkan.
            (1) Di sini kita diajar caranya untuk mencari. Kita harus meminta kepada Bapa dalam nama Kristus. Kita harus memandang Allah sebagai seorang Bapa, dan datang kepada-Nya sebagai anak. Dan kita harus datang kepada Kristus sebagai Sang Pengantara, datang kepada-Nya dalam kedudukan kita sebagai orang yang memerlukan pembelaan. Meminta kepada Bapa mencakup berkat-berkat rohani dengan kesadaran bahwa hal-hal ini hanya bisa diperoleh dari Allah semata. Ini juga mencakup sikap rendah hati dalam menyampaikan permintaan kita kepada-Nya, dengan keyakinan yang teguh terhadap-Nya, sebagai Bapa yang mampu dan siap menolong kita. Meminta dalam nama Kristus mencakup pengakuan ketidaklayakan kita untuk menerima kemurahan hati apa saja dari Allah. Kita harus puas dengan cara ini sebagai cara yang digunakan Allah untuk berhubungan dengan kita melalui Anak-Nya. Kita harus bergantung sepenuhnya kepada Kristus sebagai TUHAN keadilan kita.
            (2) Di sini diajarkan kepada kita tentang bagaimana kita akan berhasil: akan diberikan-Nya kepadamu. Apa lagi yang bisa kita rindukan selain memiliki apa yang kita inginkan, bahkan memiliki apa yang kita kehendaki, sesuai dengan kehendak Allah, dengan memintanya? Ia, yang dari-Nya datang setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, akan memberikannya kepadamu. Apa yang telah ditebus Kristus melalui kematian-Nya, tidak diperlukan-Nya bagi diri sendiri, tetapi dimaksudkan dan diserahkan-Nya kepada para pengikut-Nya yang setia. Setelah dipertimbangkan dengan baik dan diterima sepenuhnya, Ia seakan membuat tagihan kepada perbendaharaan sorga melalui janji ini, dan tagihan ini yang harus kita kemukakan melalui doa. Dalam nama-Nya kita dapat meminta hal yang telah dibayar lunas dan dijanjikan itu, sesuai dengan tujuan sejati Kovenan Baru itu. Kristus telah menjanjikan pencerahan oleh Roh, tetapi mereka harus berdoa untuk itu, dan mereka melakukannya (Kis. 1:14). Untuk hal inilah diajukan permintaan kepada Allah. Ia telah menjanjikan mereka kesempurnaan sesudah ini, tetapi sementara itu, apa yang harus mereka lakukan? Mereka harus terus berdoa. Keberhasilan sempurna disimpan untuk negeri perhentian kita kelak, sedangkan meminta dan menerima merupakan penghiburan di tanah perziarahan kita ini.

. Di sini diberikan ajakan kepada mereka untuk mengajukan permohonan. Sudah menjadi anggapan bahwa cukuplah bila orang-orang besar bersedia memberi kesempatan untuk berbicara, tetapi Kristus mengajak kita untuk mengajukan permintaan (ay. 24).

(1) Ia mengamati perilaku mereka sampai saat itu, Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku.

(2) Kita berurusan dengan seorang Bapa, dan ini sungguh membesarkan hati: "Sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, philei hymas, Dia adalah seorang sahabat bagimu dan tidak ada sahabat yang lebih baik dari Dia." Perhatikanlah, murid-murid Kristus adalah kesayangan Allah juga. Kristus bukan saja mengalihkan murka Allah dari kita dan membawa kita ke dalam kovenan perdamaian serta pemulihan hubungan, tetapi juga mendapatkan perkenanan-Nya bagi kita serta membawa kita ke dalam kovenan persahabatan. Perhatikanlah bagaimana penekanan diberikan pada kenyataan ini, bahwa "Bapa sendiri mengasihi kamu. Sekalipun Ia adalah Bapa yang sempurna bahagia dalam menikmati diri-Nya sendiri, di mana kasih yang ada dalam diri-Nya sungguh adil dan sungguh terpuji, namun Ia berkenan mengasihi kamu." Bapa itu sendiri, yang perkenanan-Nya telah kamu hancurkan, yang murka-Nya telah kamu bangkitkan, dan yang dengan siapa kamu membutuhkan seorang pengantara atau pembela, Dia sendiri yang sekarang mengasihi kamu.



*     Dengan kepastian bahwa meskipun Ia akan meninggalkan dunia, Ia kembali kepada Bapa-Nya, yang dari-Nya Ia datang (ay. 28-32).

Di sini kita mendapati:
. Pernyataan yang jelas dan langsung mengenai pengutusan Kristus dari Bapa, dan kembalinya Dia kepada Bapa (ay. 28): Aku datang dari Bapa dan Aku, seperti yang kamu lihat, datang ke dalam dunia. Sekarang Aku meninggalkan dunia pula, dan seperti yang akan segera kamu lihat, pergi kepada Bapa. Inilah kesimpulan dari semuanya. Tidak ada yang lebih ditanamkan oleh-Nya di dalam hati mereka kecuali kedua hal ini -- dari mana Dia datang, dan ke mana Ia akan pergi, yakni Alfa dan Omega dari rahasia ibadah (1Tim. 3:16), bahwa Sang Penebus ketika datang, adalah Allah yang menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dan ketika pergi, telah diangkat dalam kemuliaan.

(1) Di sini terdapat dua kebenaran,
                [1] Yang disingkat dalam beberapa kata. Ringkasan singkat mengenai pengajaran Kristen sangat bermanfaat bagi para pemula. Bagaikan berkas-berkas sinar matahari yang terpusat di kaca yang kena sinar, dasar-dasar firman Allah yang dirangkai ke dalam pengakuan iman dan katekismus menyalurkan terang dan panas ilahi dengan kuat. Dengan demikian, kita memperoleh banyak dalam sedikit (Ayb. 28:28; Pkh. 12:13; 1Tim. 1:15; Tit. 2:11-12; 1Yoh. 5:11).
                [2] Yang diperbandingkan dan saling diperhadapkan. Di dalam kebenaran-kebenaran ilahi terdapat keselarasan mengagumkan, dan keduanya saling menguatkan dan menggambarkan satu sama lain. Kedatangan dan kepergian Kristus pun seperti itu. Kristus telah memuji murid-murid-Nya karena mereka percaya bahwa Ia datang dari Allah (ay. 27), dan sesudah itu memberikan kesimpulan tentang betapa penting dan wajarnya bila Ia kembali kepada Allah, sehingga dengan demikian mereka tidak perlu menganggap kepergian-Nya itu sebagai sesuatu yang aneh atau menyedihkan. Perhatikanlah, kalau kita manfaatkan dengan baik apa yang kita ketahui dan akui, itu akan membantu kita untuk memahami sesuatu yang tampak sulit dan meragukan.

(2) Jika kita bertanya dari mana asalnya Sang Penebus, dan ke mana Ia pergi, kita diberi tahu,
                [1] Bahwa Ia datang dari Bapa, yang menguduskan dan memeteraikan Dia. Ia datang ke dunia ini, dunia yang lebih rendah, dunia umat manusia, dan melalui penjelmaan-Nya Ia menyatu di antara mereka. Di situlah Ia harus menjalankan tugas dan ke situlah Ia datang untuk melaksanakannya. Ia meninggalkan rumah-Nya untuk hidup di negeri yang asing, meninggalkan istana-Nya untuk tinggal di pondok ini. Benar-benar sikap merendahkan diri yang luar biasa!
                [2] Bahwa setelah menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi, Ia meninggalkan dunia dan kembali kepada Bapa-Nya pada saat kenaikan-Nya ke sorga. Ia bukannya diusir pergi, melainkan atas kehendak sendirilah Ia meninggalkan dunia, untuk tidak kembali sampai Ia datang untuk mengakhirinya. Namun, secara roh ia tetap hadir bersama jemaat-Nya, sampai pada kesudahannya.



BcO Kisah Para Rasul 23:12-35
Komplotan orang-orang Yahudi
23:12 Dan setelah hari siang orang-orang Yahudi mengadakan komplotan dan bersumpah dengan mengutuk diri, bahwa mereka tidak akan makan atau minum, sebelum mereka membunuh Paulus. 23:13 Jumlah mereka yang mengadakan komplotan itu lebih dari pada empat puluh orang. 23:14 Mereka pergi kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dan berkata: "Kami telah bersumpah dengan mengutuk diri, bahwa kami tidak akan makan atau minum, sebelum kami membunuh Paulus. 23:15 Karena itu hendaklah kamu bersama-sama dengan Mahkamah Agama menganjurkan kepada kepala pasukan, supaya ia menghadapkan Paulus lagi kepada kamu, seolah-olah kamu hendak memeriksa perkaranya lebih teliti, dan sementara itu kami sudah siap sedia untuk membunuh dia sebelum ia sampai kepada kamu." 23:16 Akan tetapi kemenakan Paulus, anak saudaranya perempuan, mendengar tentang penghadangan itu. Ia datang ke markas dan setelah diizinkan masuk, ia memberitahukannya kepada Paulus. 23:17 Lalu Paulus memanggil salah seorang perwira dan berkata kepadanya: "Bawalah anak ini kepada kepala pasukan, karena ada sesuatu yang perlu diberitahukannya kepadanya." 23:18 Perwira itu membawanya kepada kepala pasukan dan berkata: "Paulus orang tahanan itu, memanggil aku dan meminta, supaya aku membawa anak muda ini kepadamu, sebab ada yang perlu diberitahukannya kepadamu." 23:19 Maka kepala pasukan itu memegang tangan anak muda itu, lalu membawanya ke samping dan bertanya: "Apakah yang perlu kauberitahukan kepadaku?" 23:20 Jawabnya: "Orang-orang Yahudi telah bersepakat untuk meminta kepadamu, supaya besok engkau menghadapkan Paulus lagi ke Mahkamah Agama, seolah-olah Mahkamah itu mau memperoleh keterangan yang lebih teliti dari padanya. 23:21 Akan tetapi janganlah engkau mendengarkan mereka, sebab lebih dari pada empat puluh orang dari mereka telah siap untuk menghadang dia. Mereka telah bersumpah dengan mengutuk diri, bahwa mereka tidak akan makan atau minum, sebelum mereka membunuh dia; sekarang mereka telah siap sedia dan hanya menantikan keputusanmu." 23:22 Lalu kepala pasukan menyuruh anak muda itu pulang dan memerintahkan kepadanya: "Jangan katakan kepada siapapun juga, bahwa engkau telah memberitahukan hal ini kepadaku."
Paulus dipindahkan ke Kaisarea
23:23 Kemudian kepala pasukan memanggil dua perwira dan berkata: "Siapkan dua ratus orang prajurit untuk berangkat ke Kaisarea beserta tujuh puluh orang berkuda dan dua ratus orang bersenjata lembing, kira-kira pada jam sembilan malam ini. 23:24 Sediakan juga beberapa keledai tunggang untuk Paulus dan bawalah dia dengan selamat kepada wali negeri Feliks." 23:25 Dan ia menulis surat, yang isinya sebagai berikut: 23:26 "Salam dari Klaudius Lisias kepada wali negeri Feliks yang mulia. 23:27 Orang ini ditangkap oleh orang-orang Yahudi dan ketika mereka hendak membunuhnya, aku datang dengan pasukan mencegahnya dan melepaskannya, karena aku dengar, bahwa ia adalah warganegara Roma. 23:28 Untuk mengetahui apa alasannya mereka mendakwa dia, aku menghadapkannya ke Mahkamah Agama mereka. 23:29 Ternyatalah bagiku, bahwa ia didakwa karena soal-soal hukum Taurat mereka, tetapi tidak ada tuduhan, atas mana ia patut dihukum mati atau dipenjarakan. 23:30 Kepadaku telah diberitahukan, bahwa ada komplotan merencanakan membunuh dia. Karena itu aku segera menyuruh membawa dia kepadamu, sedang kepada para pendakwa telah kuberitahukan, bahwa mereka harus mengajukan perkara itu kepadamu." 23:31 Lalu prajurit-prajurit itu mengambil Paulus sesuai dengan yang diperintahkan kepada mereka dan membawanya pada waktu malam ke Antipatris. 23:32 Pada keesokan harinya mereka membiarkan orang-orang berkuda dan Paulus meneruskan perjalanan, dan mereka sendiri pulang ke markas. 23:33 Setibanya di Kaisarea orang-orang berkuda itu menyampaikan surat itu kepada wali negeri serta menyerahkan Paulus kepadanya. 23:34 Dan setelah membaca surat itu, wali negeri itu menanyakan Paulus dari propinsi manakah asalnya. Dan ketika ia mendengar, bahwa Paulus dari Kilikia, 23:35 ia berkata: "Aku akan memeriksa perkaramu, bila para pendakwamu juga telah tiba di sini." Lalu ia menyuruh menahan Paulus di istana Herodes.

Penjelasan:


* Persekongkolan terhadap Paulus; Paulus Dihadapkan kepada Feliks ( Kis 23:12-35)

    Di sini diceritakan kisah mengenai rencana untuk membunuh Paulus. Bagaimana rencana itu dijabarkan, bagaimana diketahui, dan bagaimana sampai digagalkan.

I. Bagaimana rencana itu dijabarkan. Orang-orang Yahudi mendapati bahwa mereka tidak memperoleh apa-apa dengan membuat keributan atau menempuh jalur hukum. Oleh karena itu, mereka beralih pada cara yang biadab yaitu dengan membunuh. Mereka hendak menghadang Paulus secara tiba-tiba, dan menikamnya begitu mereka bisa mendekati dia. Begitu tak henti-hentinya mereka berbuat jahat terhadap orang yang baik ini, ketika satu rencana gagal, mereka akan beralih pada rencana yang lain. Perhatikan di sini,
            1. Siapakah orang-orang yang membentuk komplotan ini. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang paling membenci Paulus sampai puncaknya karena ia adalah rasul bagi orang-orang bukan Yahudi (ay. Kis 23:12). Jumlah orang yang mengadakan persekongkolan itu lebih dari pada empat puluh orang (ay. Kis 23:13). Ya Tuhan, betapa banyaknya lawanku!
            2. Kapan persekongkolan ini diadakan, yaitu setelah hari siang. Iblis telah menguasai hati mereka pada malam sebelumnya untuk merencanakan hal itu, dan segera setelah hari siang, mereka berkumpul untuk melaksanakannya. Ini menggenapi perkataan nabi tentang orang-orang yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya, dan yang melakukannya di waktu fajar, dan mendapat celaka karenanya (Mi. 2:1). Pada malam hari Kristus muncul di hadapan Paulus untuk melindunginya, dan ketika hari siang, ada empat puluh orang yang muncul untuk untuk membinasakannya. Mereka tidak bangkit segera, dan Kristus bergerak sebelum mereka. Allah akan menolongnya menjelang pagi (Mzm. 46:6).
            3. Seperti apa komplotan itu. Orang-orang ini mengadakan komplotan dalam satu perkumpulan, mungkin mereka menyebutnya suatu perkumpulan kudus. Mereka berkumpul untuk saling mendukung, dan setiap orang, menurut kekuatannya, akan membantu membunuh Paulus. Sungguh aneh begitu banyak orang bisa berkumpul dengan segera, apalagi terjadi di Yerusalem, yang sama sekali sudah kehilangan rasa kemanusiaan dan rasa hormat sehingga mau terlibat di dalam persekongkolan berdarah semacam itu. Mungkin tepat jika keluhan Nabi Yesaya mengenai Yerusalem dinyatakan lagi (Yes. 1:21): tadinya di situ selalu diam kebenaran, tetapi sekarang penuh pembunuh. Tentunya sungguh mengerikan pemikiran orang-orang ini mengenai Paulus, sehingga mereka bisa menyusun suatu rencana yang begitu mengerikan terhadapnya. Tentu mereka telah dibuat percaya bahwa Paulus adalah orang yang paling jahat, musuh bagi Allah dan agama, dan merupakan kutuk serta wabah bagi orang-orang seangkatannya. Padahal sesungguhnya sifat Paulus sangat bertentangan dengan semua ini! Namun, hukum kebenaran dan keadilan itu sungguh begitu kudus, begitu kuat sehingga kejahatan dan pembenaran diri sendiri pun tidak bisa menerobosnya!
            4. Seberapa teguh tekad mereka, karena mereka berpikir bahwa tidak seorang pun dari mereka yang akan kabur, gara-gara menyadari betapa mengerikannya hal itu ketika berpikir-pikir lagi. Mereka bersumpah dengan mengutuk diri, menimpakan kutuk yang paling berat terhadap diri mereka sendiri, jiwa, tubuh, dan keluarga mereka, jika mereka tidak membunuh Paulus. Dan begitu sudah tidak sabar lagi untuk melakukannya sampai mereka tidak akan makan atau minum sebelum mereka melakukannya. Sungguh rumit kejahatan yang terjadi di sini!Mereka berencana membunuh seorang yang tidak bersalah, seorang yang baik, seorang yang berguna, seorang yang tidak berbuat jahat terhadap mereka, dan malah justru ingin melakukan segala kebaikan yang dapat dilakukannya terhadap mereka. Sampai-sampai, mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain, dan membuktikan bahwa Iblislah yang menjadi bapa mereka, yang adalah pembunuh manusia sejak semula.

Namun, seolah-olah ini hanyalah masalah kecil,
                (1) Mereka mengikatkan diri pada sumpah. Ingin berbuat jahat dan bermaksud melakukannya saja sudah jahat, tetapi bersumpah hendak melakukannya, itu lebih jahat lagi. Ini berarti mengadakan perjanjian dengan iblis. Ini berarti mengikat sumpah dengan raja kegelapan. Tidak ada ruang bagi pertobatan dalam hal ini. Bukan itu saja, ini berarti penolakan terhadap pertobatan.
                (2) Mereka saling mengikat satu sama lain, dan berusaha sebisanya, bukan hanya untuk memastikan kutuk atas jiwa mereka sendiri, melainkan juga atas jiwa orang-orang yang mereka libatkan di dalam perikatan tersebut.
                (3) Mereka menunjukkan penghinaan besar terhadap pemeliharaan Allah, dan bersikap congkak terhadapnya, dengan bersumpah untuk melakukan hal semacam itu di dalam jangka waktu yang begitu pendek sehingga mereka bisa terus berpuasa, tanpa memerlukan pemeliharaan dari sang Pemelihara Ilahi yang penuh kuasa. Jika kita berkata, besok kami akan melakukan ini atau itu, hendaklah itu adalah sesuatu yang pantas atau baik. Dan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, kita harus menambahkan, jika Tuhan menghendakinya. Namun, bagaimana mereka berani menjamin bahwa Allah akan mengizinkan, sementara mereka tahu bahwa apa yang sedang mereka rencanakan jelas-jelas menentang apa yang sudah dilarang oleh Allah?
                (4) Mereka menunjukkan penghinaan besar terhadap jiwa dan tubuh mereka. Mereka meremehkan jiwa mereka dengan menimpakan kutuk ke atas diri mereka, jika mereka tidak berhasil melaksanakan rencana mereka yang mengerikan (mereka benar-benar melemparkan diri ke dalam keadaan yang serba salah dan penuh celaka, karena Allah jelas akan menimpakan kutuk pada mereka jika mereka berhasil melaksanakannya, dan mereka ingin agar Dia juga melakukannya jika mereka tidak berhasil melaksanakannya!). Mereka juga meremehkan tubuh mereka (karena pendosa yang melakukannya dengan sengaja akan menghancurkan keduanya) dengan melepaskan diri dari pendukung kehidupan sampai mereka melaksanakan sesuatu yang tidak akan pernah boleh mereka lakukan, dan mungkin juga tidak mungkin berhasil mereka lakukan. Begitulah bahasa neraka, bila orang sampai berharap supaya Allah mengutuki mereka, dan supaya iblis menguasai mereka jika mereka tidak berbuat ini atau itu. Mereka cinta kepada kutuk, maka biarlah itu datang kepada mereka. Ada orang beranggapan bahwa maksud dari kutuk ini adalah, mereka akan membunuh Paulus, seperti Akhan, sebagai seorang yang terkutuk, yang mencelakakan perkemahan bangsa Israel. Jika mereka tidak melakukannya, maka mereka akan menjadikan diri mereka terkutuk di hadapan Allah sebagai gantinya.
                (5) Mereka memperlihatkan suatu keinginan yang sangat besar untuk melaksanakan perkara ini, dan tidak sabar menunggu sampai itu terlaksana. Mereka tidak saja seperti musuh-musuh Daud, yang mempermainkan dia, dan menyumpah dengan menyebut namanya (Mzm. 102:9), tetapi juga seperti perkataan hamba-hamba Ayub terhadap musuhnya: Siapa yang tidak kenyang dengan lauknya? (KJV: Kami sudah memakan dagingnya, tetapi tidak kenyang -” pen.) (Ayb. 31:31). Para penganiaya dikatakan memakan habis umat Allah seperti memakan roti. Itu sama memuaskannya bagi mereka seperti halnya daging bagi orang yang lapar (Mzm. 14:4).
            5. Cara apa yang mereka tempuh untuk melaksanakannya. Tidak ada cara untuk mendekati Paulus di dalam markas. Dia berada di situ dalam perlindungan khusus dari pemerintah, dan dipenjarakan, bukan seperti orang lain, yang jika tidak demikian maka akan melakukan kejahatan, tetapi karena jika tidak demikian, maka orang akan berbuat jahat kepadanya. Oleh sebab itu, disusunlah rencana supaya imam kepala dan para tua-tua harus meminta pemimpin markas itu menyuruh Paulus menghadap mereka di ruang pengadilan Mahkamah Agama, untuk diperiksa lebih lanjut (karena ada beberapa pertanyaan yang harus diajukan kepadanya, atau ada sesuatu yang harus dikatakan kepadanya). Kemudian, dalam perjalanan dari markas menuju Mahkamah Agama, mereka akan mengakhiri semua perdebatan tentang Paulus dengan membunuhnya. Demikianlah jalannya rencana itu (ay. Kis 23:14-15). Setelah sepanjang hari sibuk merancang kejahatan ini, menjelang sore mereka mendatangi anggota-anggota penting dari Mahkamah Agama yang agung itu. Meskipun sebenarnya mereka dapat menutup-nutupi rencana busuk mereka dan mungkin mempengaruhi anggota Mahkamah Agama dengan alasan palsu yang lain untuk memanggil Paulus, mereka sangat yakin bahwa orang-orang itu akan menyetujui rencana busuk ini, sehingga mereka tidak malu atau takut mengakui bahwa mereka telah bersumpah dengan mengutuk diri, tanpa meminta nasihat para imam terlebih dahulu apakah mereka boleh melakukan itu, bahwa mereka tidak akan makan atau minum keesokan harinya sebelum mereka membunuh Paulus. Mereka bermaksud untuk makan pada pagi berikutnya, setelah menumpahkan darah Paulus. Mereka tidak meragukan bahwa Imam Besar tidak hanya akan setuju dengan mereka tentang rencana ini, tetapi juga akan membantu mereka, dan menjadi alat bagi mereka untuk memperoleh kesempatan membunuh Paulus. Bukan hanya itu, ia juga akan berdusta bagi mereka juga, dengan berpura-pura terhadap kepala pasukan seolah-olah mereka hendak memeriksa perkaranya lebih teliti, padahal sesungguhnya tidak bermaksud begitu. Sungguh busuk pemikiran mereka terhadap para imam mereka, kalau mereka bisa melibatkan imam-imam tersebut dalam perkara semacam itu! Walau begitu, sejahat rencana yang telah dibuat bagi mereka (karena begitulah tampaknya), para imam dan tua-tua itu menyetujuinya, dan sejak semula, tanpa keraguan sedikit pun, berjanji untuk membantu mereka. Bukannya menegur orang-orang Yahudi itu atas persekongkolan mereka yang jahat, seperti seharusnya, mereka justru memberikan dukungan, karena rencana itu ditujukan kepada Paulus yang mereka benci. Dengan demikian, mereka mengambil bagian dalam kejahatan itu, seolah-olah sama seperti mereka sendiri yang merencanakan persekongkolan itu sejak awal.

II. Bagaimana rencana itu diketahui.
Kita tidak mendapati bahwa para pesekongkol itu, meskipun bersumpah setia, juga bersumpah untuk merahasiakannya, baik karena mereka menganggap bahwa hal itu tidak perlu (masing-masing dari mereka akan menyimpannya sendiri), ataupun karena mereka beranggapan bahwa mereka pasti akan dapat melaksanakannya, meskipun berita itu akan terbawa angin dan diketahui orang. Namun sang Pemelihara Ilahi memang sudah mengatur supaya rencana itu diketahui, sehingga pada akhirnya berhasil digagalkan. Lihat di sini,
            1. Bagaimana rencana itu diberitahukan kepada Paulus (ay. Kis 23:16). Ada seorang pemuda yang memiliki hubungan darah dengan Paulus, yaitu anak saudaranya perempuan, yang ibunya mungkin tinggal di Yerusalem. Entah bagaimana, kita tidak diberi tahu, ia mendengar tentang penghadangan itu, baik karena tidak sengaja mendengar mereka membicarakannya satu sama lain, atau karena diberi tahu seseorang yang turut serta di dalam persekongkolan itu. Maka ia datang ke markas, mungkin untuk mengunjungi pamannya, seperti yang biasa dilakukannya, dan membawakan apa yang diminta Paulus. Begitulah ia bebas menjumpai Paulus dan memberitahukan kepadanya apa yang didengarnya. Perhatikan, Allah memiliki banyak cara untuk menerangi pekerjaan yang tersembunyi dalam kegelapan. Meskipun para pesekongkol itu menggali dalam-dalam untuk menyembunyikannya dari Tuhan, Ia dapat membuat burung di udara untuk menyampaikan ucapan itu (Pkh. 10:20), atau membuat lidah para pesekongkol itu sendiri mengkhianati mereka.
            2. Bagaimana rencana itu diberitahukan kepada kepala pasukan, oleh anak muda yang memberitahukannya kepada Paulus tersebut. Bagian kisah ini diceritakan dengan sangat terperinci, mungkin karena penulisnya menyaksikan sendiri bagaimana masalah ini dijalankan dengan hati-hati dan berhasil, dan mengingatnya dengan sangat bersenang hati.
                (1) Paulus diistimewakan oleh para pengawal yang menjaganya, dikarenakan perilakunya yang sopan dan mau bekerja sama. Paulus bisa memanggil salah satu perwira datang kepadanya, meskipun seorang perwira adalah orang yang berkuasa, yang memiliki prajurit bawahan, dan biasa memanggil, bukan dipanggil. Namun perwira itu segera datang ketika dipanggil (ay. Kis 23:17). Paulus mau supaya perwira itu memperkenalkan anak muda ini kepada kepala pasukan, untuk memberitahukan sesuatu yang berhubungan dengan kehormatan pemerintah.
                (2) Perwira itu siap sedia memenuhi keinginan Paulus (ay. Kis 23:18). Ia tidak menyuruh seorang prajurit biasa, tetapi datang sendiri untuk menemui anak muda ini dan mengantarkannya kepada kepala pasukan, dan menunjukkan sikap hormatnya terhadap Paulus. “Paulus orang tahanan itu (itulah sebutan bagi Paulus sekarang), memanggil aku dan meminta, supaya aku membawa anak muda ini kepadamu. Apa urusannya aku tidak tahu, tetapi ada yang perlu diberitahukannya kepadamu.” Perhatikan, bertindak bagi para tawanan yang malang sama seperti memberi kepada mereka, dan itu sungguh merupakan perbuatan amal yang sejati bagi mereka. “Ketika Aku sakit dan di dalam penjara, kamu pergi untuk melakukan sesuatu bagi-Ku,” juga dapat dibenarkan sama seperti, “Ketika Aku sakit dan di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku, mendatangi Aku, atau mengirimkan sesuatu untuk-Ku.” Barangsiapa memiliki kenalan dan kepedulian harus siap menggunakannya untuk menolong orang-orang yang sedang menderita. Perwira ini membantu menyelamatkan hidup Paulus dengan secuil kebaikan ini, yang seharusnya menggugah kita untuk berbuat serupa bila ada kesempatan. Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu (Ams. 31:8). Siapa yang tidak bisa memberikan sesuatu yang baik bagi hamba Allah yang sedang dipenjara, boleh juga mengatakan sesuatu yang baik bagi mereka.
                (3) Kepala pasukan menerima kabar tersebut dengan rendah hati dan penuh perhatian (ay. Kis 23:19). Ia memegang tangan anak muda itu, seperti seorang teman atau ayah, untuk membesarkan hatinya, supaya ia tidak merasa disepelekan, tetapi yakin bahwa perkataannya akan didengar. Pelajaran dari peristiwa ini semestinya mendorong orang-orang besar bersikap ramah kepada orang-orang hina dalam hal apa saja, yang siapa tahu memberi mereka kesempatan untuk berbuat baik. Mereka perlu mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang sederhana (KJV: merendahkan diri kepada orang-orang yang rendah -” pen.). Sikap ramah yang ditunjukkan perwira Romawi ini terhadap kemenakan Paulus dicatat di sini sebagai pujian dan hormat baginya. Janganlah orang mengira dirinya terhina dengan merendahkan diri atau berbaik hati. Kepala pasukan itu membawanya ke samping, supaya tidak ada yang mendengar pembicaraannya, dan bertanya, “Apakah yang perlu kauberitahukan kepadaku? Katakan bagaimana aku dapat membantu Paulus.” Mungkin kepala pasukan itu merasa lebih terlibat dalam peristiwa ini karena menyadari bahwa ia telah membahayakan dirinya sendiri dengan menahan Paulus, yang memiliki hak istimewa sebagai warga negara Roma. Oleh karena itu, sekarang ia bersedia menebus kesalahannya tersebut.
                (4) Pemuda itu menyampaikan pesannya kepada kepala pasukan dengan lancar dan tanpa ragu (ay. Kis 23:20-21). “Orang-Orang Yahudi” (tidak disebutkannya siapa, supaya ia tidak mengakibatkan imam kepala dan tua-tua dibenci. Kepentingannya adalah menyelamatkan pamannya, bukan mendakwa musuhnya) “telah bersepakat untuk meminta kepadamu, supaya besok engkau menghadapkan Paulus lagi ke Mahkamah Agama, dengan memperkirakan bahwa karena jaraknya dekat, maka engkau akan mengirim dia tanpa penjaga. Akan tetapi janganlah engkau mendengarkan mereka. Kami yakin engkau tidak akan melakukannya jika engkau mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi, sebab lebih dari pada empat puluh orang dari mereka telah siap untuk menghadang dia, yaitu mereka yang telah bersumpah untuk membunuhnya, dan sekarang mereka telah siap sedia dan hanya menantikan keputusanmu. Tetapi aku senang karena sudah mendahului mereka.”
                (5) Kepala pasukan itu menyuruhnya pulang dan merahasiakan hal tersebut, “Jangan katakan kepada siapa pun juga, bahwa engkau telah memberitahukan hal ini kepadaku” (ay. Kis 23:22). Kebaikan yang diterima dari orang-orang besar tidak harus selalu dipamer-pamerkan, dan tidak pantas dimanfaatkan untuk kepentingan suatu urusan. Jika terdengar kabar bahwa kepala pasukan itu sudah diberi tahu tentang hal ini, mungkin mereka akan memikirkan cara lain untuk membunuh Paulus. “Karena itu rahasiakanlah hal ini.”

III. Bagaimana rencana itu digagalkan.
Kepala pasukan mengetahui betapa teguh dan kokohnya nafsu orang Yahudi untuk membunuh Paulus, dan betapa tidak kenal lelahnya mereka mencari cara untuk mencelakakan Paulus. Ia juga tahu, bahwa sedikit lagi saja, bisa-bisa ia akan turut membantu dalam kejahatan mereka. Karena itu ia memutuskan untuk secepat mungkin menjauhkan Paulus dari jangkauan mereka. Dia menerima pesan tersebut dengan rasa ngeri dan jijik terhadap kekejian dan nafsu membunuh pada diri orang-orang Yahudi ini. Sepertinya dia juga takut jika ia tetap menahan Paulus di markas ini, sekalipun di dalam pengawasan seorang penjaga yang kuat, mereka akan menemukan suatu cara untuk mencapai tujuan mereka, entah dengan memukul para penjaga atau membakar markas itu. Namun apa pun yang akan terjadi, sedapat mungkin ia akan melindungi Paulus, karena ia berpendapat bahwa Paulus tidak layak mendapat perlakuan semacam itu. Sungguh menyedihkan, bahwa imam-imam kepala Yahudi, ketika mengetahui rencana pembunuhan ini, malah mendukungnya serta membantunya. Sementara di lain pihak, ketika seorang kepala pasukan Romawi mengetahuinya, yang murni hanya karena rasa keadilan dan kemanusiaan, memutuskan untuk mencegahnya, dan rela menempatkan diri dalam masalah besar demi melakukan hal itu!
            1. Kepala pasukan itu memerintahkan sejumlah besar pasukan khusus tentara Romawi bawahannya untuk bersiap-siap berangkat ke Kaisarea secepat mungkin dan membawa Paulus ke sana, ke hadapan wali negeri Feliks. Ia berharap di sana Paulus dapat diadili lebih cepat daripada di hadapan Mahkamah Agama di Yerusalem. Saya tidak tahu, tetapi mungkin kepala pasukan itu, tanpa sedikit pun berkhianat terhadap tugasnya, mau membebaskan Paulus dan membiarkannya pergi menyelamatkan diri, karena Paulus tidak pernah dinyatakan secara hukum sebagai penjahat ketika ditahan. Kepala pasukan itu sendiri mengakui bahwa tidak ada tuduhan, atas mana ia patut dihukum mati atau dipenjarakan (ay. Kis 23:29). Dan mestinya ia sama pedulinya terhadap kebebasan Paulus, sebagaimana ia peduli terhadap nyawa Paulus. Namun juga, ia takut ini akan sangat membangkitkan amarah orang Yahudi terhadapnya. Atau, mungkin karena mendapati Paulus adalah seorang yang begitu luar biasa, ia merasa sangat bangga Paulus menjadi tawanannya dan berada di bawah penjagaannya. Besarnya pasukan yang diutusnya untuk membawa Paulus sudah sangat jelas menyiratkan hal itu. Dua perwira, atau kepala pasukan seratus, ditugaskan dalam perjalanan ini (ay. Kis 23:23-24). Keduanya harus menyiapkan dua ratus orang prajurit, mungkin bawahan mereka, untuk berangkat ke Kaisarea. Dan bersama mereka tujuh puluh orang berkuda dan dua ratus orang bersenjata lembing, yang menurut anggapan beberapa orang adalah para pengawal kepala pasukan. Tidak jelas apakah mereka ini menunggang kuda atau berjalan kaki, tetapi kemungkinan besar berjalan kaki, karena prajurit bersenjata lembing bertugas melindungi kuda. Lihat bagaimana Allah begitu adil meletakkan bangsa Yahudi di bawah kuk kekuasaan Romawi, ketika dibutuhkan pasukan Romawi sebesar itu untuk menjauhkan mereka dari melakukan segala kejahatan yang paling keji! Sesungguhnya pasukan sebesar itu tidak diperlukan, bahkan seorang pun tidak, untuk mencegah Paulus diselamatkan oleh teman-temannya. Karena pasukan yang besarnya sepuluh kali lipat dari mereka pun tidak akan dapat menghalangi seorang malaikat untuk melepaskan Paulus, seandainya Allah memang berkehendak melepaskan dia dengan cara tersebut, seperti yang terkadang dilakukan-Nya. Namun,
                (1) Dengan begini, kepala pasukan bertujuan untuk menunjukkan kepada orang Yahudi, bangsa yang suka buat keributan dan tegar tengkuk, yang tidak dapat tunduk dan diatur oleh pihak berwenang yang biasa, tetapi harus ditakut-takuti dengan iring-iringan seperti ini. Selain itu, karena mendengar begitu banyak orang yang terlibat dalam persekongkolan untuk membunuh Paulus, maka ia beranggapan bahwa pasukan yang jumlahnya kurang dari itu tidak akan dapat menggagalkan usaha mereka.
                (2) Dengan begini, Allah bertujuan untuk membesarkan hati Paulus. Sebab, dengan dikawal seperti ini, Paulus tidak hanya aman di dalam tangan teman-temannya, tetapi juga dari tangan musuh-musuhnya. Walau begitu Paulus tidak menginginkan penjagaan seperti itu, lebih daripada yang diinginkan Ezra (Ezr. 8:22), serta juga karena alasan yang sama, yaitu karena percaya kepada pemeliharaan Allah yang mencukupi. Namun itu semua adalah karena kepala pasukan itu sendiri yang begitu peduli terhadap Paulus. Namun Paulus juga menganggapnya penting, supaya jelas bagi seluruh negeri, bahwa dia dipenjarakan karena Kristus (Filipi 1:13). Karena sebelum itu pemenjaraannya telah dianggap begitu terhormat, karena sudah dinubuatkan terlebih dahulu, maka dapat dimengerti apabila ia disertai sedemikian rupa sebagai tawanan, supaya para saudara dalam Tuhan dapat beroleh kepercayaan karena pemenjaraannya, ketika mereka melihat penjagaannya lebih karena ia adalah pahlawan dan bukannya pejahat negara. Juga bahwa seorang pemberita Injil yang luar biasa itu menjadi tawanan yang begitu luar biasa. Ketika musuhnya membenci Paulus, dan saya menduga bahwa teman-temannya mengabaikannya, maka seorang perwira Romawi menolongnya, dan mengatur dengan saksama,
                    [1] Kenyamanan Paulus: Sediakan juga beberapa keledai tunggang untuk Paulus. Seandainya orang-orang Yahudi yang hendak membunuhnya yang memerintahkan supaya Paulus dipindahkan dengan surat panggilan ke Kaisarea, tentu mereka akan menyuruhnya berlari, atau membawanya ke sana dengan kereta. Atau, menyeretnya dengan gerobak atau seekor kuda di belakang salah seorang prajurit. Namun, kepala pasukan memperlakukan Paulus seperti orang terhormat, meskipun ia adalah tawanan, dan memberikan kepadanya kuda yang baik untuk ditunggangi, tanpa rasa takut sedikit pun bahwa Paulus akan melarikan diri. Tidak hanya itu, bahkan perintah itu mengatakan bahwa mereka harus menyediakan, bukan seekor keledai, melainkan beberapa keledai, untuk ditunggangi oleh Paulus. Kita dapat menduga bahwa Paulus juga mendapat kehormatan untuk mendapatkan seekor kuda tunggangan, atau malah lebih lagi, supaya jika ia tidak menyukai yang satu, ia boleh memilih yang lain. Atau (seperti ditafsirkan beberapa orang) ia mendapat beberapa keledai untuk menemaninya, sebanyak yang dia inginkan, untuk menghibur serta menemaninya dalam perjalanan.
                    [2] Keamanan Paulus. Pasukan itu diperintahkan dengan tegas oleh komandan mereka supaya membawa dia dengan selamat kepada wali negeri Feliks, kepada siapa Paulus harus diserahkan. Wali negeri Feliks mengepalai seluruh urusan warga negara bangsa Yahudi, seperti halnya si kepala pasukan itu mengepalai urusan militer di antara mereka. Para sejarawan Roma banyak membicarakan Feliks ini, sebagai seorang dari kalangan hina, tetapi berhasil mengangkat posisinya menjadi gubernur wilayah Yudea. Dalam melaksanakan jabatannya, Tacitus berkata dalam Hist. 5 tentang dirinya: Per omnem sævitiam ac libidinem jus regium servili ingenio exercuit -” Ia menggunakan kekuasaannya dengan cara luar biasa pintar untuk menyenangkan hati orang, dan yang berkaitan dengan segala macam kekejaman dan hawa nafsu. Ke tangan orang semacam inilah Paulus yang malang diserahkan untuk diadili. Tetapi itu masih lebih baik daripada di tangan Imam besar Ananias! Nah, seorang tawanan, yang hendak diadili secara hukum, harus dilindungi seperti seorang bangsawan.
            2. Untuk memperketat keamanan Paulus, kepala pasukan memerintahkan supaya ia dibawa pergi pada jam sembilan malam ini (KJV: jam ketiga pada malam hari -” pen.), yang menurut beberapa orang artinya adalah tiga jam setelah matahari terbenam. Maksudnya, karena peristiwa itu terjadi setelah berakhirnya perayaan Pentakosta (yaitu pada pertengahan musim panas), mereka bisa berangkat di malam yang sejuk. Yang lain menafsirkannya sebagai tiga jam setelah tengah malam, pada jam yang ketiga, yaitu sekitar pukul tiga pagi, supaya mereka berangkat sebelum fajar tiba, dan sudah bisa keluar dari Yerusalem sebelum musuh Paulus bergerak. Dengan begitu, mereka dapat menghindari terjadinya keributan orang banyak dan membiarkan musuh-musuh Paulus mengamuk ketika bangun, seperti singa yang kehilangan mangsanya.
            3. Dan ia menulis surat kepada Feliks wali negeri di provinsi itu. Dengan surat itu, kepala pasukan menyatakan pengunduran diri dari kewajibannya terhadap Paulus, dan menyerahkan seluruh perkara itu kepada Feliks. Di sini, surat itu dicatat totidem verbis -” kata demi kata (ay. Kis 23:25). Mungkin Lukas, penulis kisah sejarah ini, memiliki salinannya, karena ikut menyertai Paulus dalam perjalanan tersebut. Dalam surat ini kita bisa mengamati,
                (1) Pujian yang ditujukan oleh kepala pasukan kepada wali negeri (ay. Kis 23:26). Ia adalah wali negeri Feliks yang mulia. Gelar ini diberikan kepadanya sesuai prosedur, atas kebesarannya dan lain-lain. Kepala pasukan mengirimkan salam, memohon segala kesehatan dan kesejahteraan baginya. Kiranya ia berbahagia, kiranya ia berbahagia selalu.
                (2) Penjelasannya yang adil dan apa adanya mengenai perkara Paulus:
                    [1] Bahwa Paulus menjadi sasaran orang Yahudi. Mereka menangkapnya dan hendak membunuhnya. Mungkin Feliks sudah sangat mengenal watak orang Yahudi, sehingga tidak berpikir yang buruk-buruk mengenai Paulus gara-gara itu (ay. Kis 23:27).
                    [2] Bahwa kepala pasukan itu telah melindungi Paulus karena ia adalah warga negara Roma. “Ketika mereka hendak membunuhnya, aku datang dengan pasukan, sejumlah tentara yang besar, dan melepaskannya.” Tindakan semacam itu yang dilakukan bagi seorang warga negara Roma akan mengharumkan namanya di hadapan wali negeri tersebut.
                    [3] Bahwa kepala pasukan itu tidak bisa memahami perkara Paulus, begitu pula apa yang membuat orang Yahudi begitu membencinya dan hendak mencelakainya. Kepala pasukan itu memilih cara yang benar untuk mencari tahu: Ia menghadapkannya ke Mahkamah Agama mereka (ay. Kis 23:28), agar diperiksa di sana. Ia berharap dapat mengetahui sesuatu yang menjadi sebab dari semua keributan ini, baik melalui tuntutan mereka atau melalui pengakuan Paulus sendiri. Namun ia mendapati bahwa ternyata Paulus didakwa karena soal-soal hukum Taurat mereka (ay. Kis 23:29), mengenai pengharapan akan kebangkitan orang mati (ay. Kis 23:6). Kepala pasukan ini adalah seorang yang bijak dan terhormat, serta memiliki prinsip yang baik tentang keadilan dan kemanusiaan. Walau begitu, lihat betapa dengan sepelenya ia berbicara tentang dunia lain dan hal-hal yang luar biasa mengenai dunia tersebut seolah-olah itu adalah suatu yang meragukan, padahal itu adalah sesuatu yang pasti dan tidak perlu diragukan lagi, yang sama-sama disetujui Paulus maupun anggota Mahkamah Agama, kecuali orang Saduki. Seolah-olah itu hanyalah soal-soal hukum Taurat mereka, padahal itu merupakan persoalan yang paling penting bagi seluruh umat manusia! Atau, mungkin ia lebih merujuk pada soal-soal mengenai tata ibadah mereka daripada tentang ajaran mereka, dan perselisihan yang dilihatnya antara orang Yahudi dengan Paulus adalah tentang merendahkan nilai dan kewajiban hukum dari tata ibadah mereka, yang dipandangnya sebagai sesuatu yang tidak perlu dibicarakan. Bangsa Romawi memperbolehkan bangsa-bangsa jajahannya untuk menjalankan ibadah agamanya sendiri, dan tidak pernah memaksakan agama mereka kepada bangsa-bangsa jajahan mereka itu. Namun untuk menjaga ketertiban umum, mereka tidak mau membiarkan bangsa-bangsa itu menyiksa sesamanya di balik topeng agama.
                    [4] Bahwa sejauh ini kepala pasukan itu mengerti bahwa tidak ada tuduhan, atas mana ia patut dihukum mati atau dipenjarakan, apalagi yang bisa dibuktikan melawan dia. Karena kejahatan mereka, orang Yahudi telah membuat diri mereka dibenci oleh dunia, telah mencemari kehormatan mereka dan mengotori mahkota mereka sendiri, mempermalukan jemaat mereka, hukum mereka, dan tempat kudus mereka. Namun, mereka sendiri berseru-seru menentang Paulus, karena telah merendahkan kehormatan mereka. Apakah ini suatu kejahatan yang layak mendapat hukuman mati atau penjara?
                (3) Bagaimana ia menyerahkan kasus Paulus kepada Feliks (ay. Kis 23:30), “Ketika kepadaku telah diberitahukan, bahwa ada komplotan merencanakan membunuh dia, tanpa adanya proses peradilan terhadapnya, maka aku segera menyuruh membawa dia kepadamu, yang merupakan orang yang paling tepat untuk mengurus masalah ini, dan mengambil keputusan tentang hal ini, serta membiarkan para pendakwa Paulus mengejarnya jika mau, dan mengajukan perkara itu kepadamu. Sebagai seorang prajurit, aku tidak akan berlagak menjadi seorang hakim. Salam.”
            4. Dengan begitu, Paulus dibawa ke Kaisarea. Para prajurit membawa dia keluar dari Yerusalem dengan selamat pada malam hari, dan meninggalkan orang-orang yang bersekongkol itu untuk berpikir apakah mereka harus makan dan minum atau tidak sebelum membunuh Paulus. Jika mereka tidak mau bertobat dari kejahatan akan sumpah mereka terhadap Paulus, sekarang terserah mereka untuk bertobat dari ketergesa-gesaan sumpah mereka karena itu akan berakibat buruk bagi diri mereka sendiri. Jika di antara mereka ada yang mati kelaparan gara-gara sumpah mereka dan tertekan karena kecewa, maka biarlah mereka menanggunggnya sendiri. Paulus dibawa ke Antipatris, yang berjarak sekitar dua puluh tujuh kilometer dari Yerusalem, dan kira-kira berada di tengah-tengah perjalanan menuju Kaisarea (ay. Kis 23:31). Dari sana, dua ratus orang prajurit dan dua ratus orang bersenjata lembing pulang kembali ke Yerusalem, dan kembali ke markas. Karena Paulus sudah terlepas dari bahaya, maka tidak diperlukan lagi penjagaan yang kuat. Tetapi orang-orang berkuda dapat mengantarkannya ke Kaisarea, dan dapat melakukannya lebih cepat. Mereka melakukan hal ini tidak hanya demi menghemat tenaga mereka sendiri, tetapi juga untuk mengamankan perintah tuan mereka. Ini merupakan teladan bagi para hamba, supaya tidak hanya menaati perintah tuan mereka, tetapi juga bertindak dengan bijaksana, supaya mendatangkan keuntungan paling besar bagi tuan mereka.
            5. Paulus diserahkan ke tangan Feliks, sebagai tawanannya (ay. Kis 23:33). Para prajurit menyampaikan surat itu serta menyerahkan Paulus kepada Feliks, dan dengan begitu selesailah tugas mereka. Ke mana pun Paulus pergi, ia belum pernah bertemu atau bergaul dengan orang-orang penting, selain dengan para murid, namun Allah mengatur penderitaannya sedemikian rupa, sehingga melalui penderitaannya itu Paulus mendapat kesempatan untuk bersaksi tentang Kristus di hadapan orang-orang penting. Begitulah yang Kristus telah nubuatkan tentang murid-murid-Nya, bahwa mereka akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka (Mrk. 13:9). Wali negeri itu menanyakan dari propinsi manakah asalnya Paulus, dan diberitahu bahwa ia dari Kilikia (ay. Kis 23:34).


___



Daftar Label dari Kategori Renungan Katolik 2024
Lagu Anak(1)




Nama-Nama Bayi Katolik Terlengkap

Kalender Liturgi Katolik 2024 dan Saran Nyanyian

Kalender Liturgi Katolik Mei 2024 dan Saran Nyanyian


Orang Kudus Katolik Dirayakan Mei
Santo-Santa 25 Mei - Santo Gregorius VII, Paus dan Pengaku Iman

MAZMUR TANGGAPAN & BAIT PENGANTAR INJIL
- PASKAH
- KENAIKAN
- PENTAKOSTA
- BIASA



NEXT:
Renungan Katolik Minggu, 12 Mei 2024 - Yohanes 17:11b-19 - BcO Kisah Para Rasul 24:1-6.8b-27 - HARI MINGGU PASKAH VII

PREV:
Renungan Katolik Jumat, 10 Mei 2024 - Yohanes 16:20-23a - BcO Kisah Para Rasul 22:22-23:11 - Yohanes dari Avila





Arsip Renungan Katolik 2024..


Jadwal Misa Gereja Seluruh Indonesia
1. Map/Peta Gereja Katolik di Jakarta
2. Map/Peta Gereja Katolik di Surabaya
3. Map/Peta Gereja Katolik di Makassar
4. Map/Peta Gereja Katolik di Bandung
5. Map/Peta Gereja Katolik di Medan
6. Map/Peta Gereja Katolik di Depok
Agustus - Hati Maria Yang Tidak Bernoda(3)
April - Sakramen Maha Kudus (6)
Bulan Katekese Liturgi(5)
Bulan November - Jiwa-jiwa Kudus di Api penyucian(4)
Bulan Oktober - Bulan Rosario(1)
Bulan Oktober - Bulan Rosario suci(4)
Desember - Bunda Maria yang dikandung tanpa noda(4)
Februari - Keluarga Kudus Yesus Maria Yosep(5)
Ibadah(1)
Januari - Bulan menghormati Nama Yesus(5)
Juli - Darah Mulia(2)
Juni - Hati Kudus Yesus(10)
Maret - Pesta St. Yosep(3)
Mei - Bulan Maria(8)
Penutup Bulan Rosario(1)
Peringatan Arwah(2)
Rabu Abu(1)
SEPTEMBER - TUJUH DUKA MARIA(7)