misa.lagu-gereja.com
 
View : 90 kali
Renungan Katolik 2024
Kamis, 13 Juni 2024
Renungan Katolik Kamis, 13 Juni 2024 - Perayaan Wajib St. Antonius dr Padua - Matius 5:20-26 - BcO Filipi 3:1-16
#tag:

Kamis, 13 Juni 2024
Perayaan Wajib St. Antonius dr Padua
1Raj 18:41-46; Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13;
Matius 5:20-26
BcO Filipi 3:1-16
Warna Liturgi Putih

Matius 5:20-26
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Penjelasan:

* Kebenaran yang hendak ditegakkan Kristus berdasarkan aturan ini harus melebihi kebenaran para ahli Taurat dan orang Farisi (ay. 20). Ini merupakan ajaran yang aneh bagi orang-orang yang menganggap ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi sebagai orang-orang yang telah mencapai tingkatan tertinggi dalam agama. Para ahli Taurat adalah pengajar hukum Taurat yang paling terkemuka, sedangkan orang Farisi merupakan para pengikut hukum yang paling ternama, dan kedua kelompok ini duduk di kursi Musa (23:2). Mereka sangat dikenal baik sebagai orang-orang yang sangat patuh terhadap hukum Taurat. Orang-orang biasa tidak berani berpikir bahwa mereka bisa sebaik kedua kelompok ini. Oleh sebab itu mereka sangat terkejut ketika mendengar bahwa mereka haruslah lebih baik daripada para ahli Taurat dan orang Farisi, karena bila tidak, mereka tidak akan dapat masuk sorga. Itulah sebabnya Kristus menegaskan hal tersebut dengan sungguh-sungguh, Aku berkata kepadamu, memang demikianlah halnya. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi memusuhi Kristus dan ajaran-Nya. Mereka merupakan penentang-penentang yang keras terhadap Dia. Meskipun demikian, haruslah diakui bahwa ada sesuatu yang patut dipuji dalam diri mereka. Mereka sangat rajin berpuasa, berdoa, dan memberikan sedekah. Mereka sangat teliti dalam mengamati jalannya upacara dan giat mengajar orang lain. Karena begitu menaruh perhatian pada orang-orang lain, mereka menyangka bahwa sekiranya hanya ada dua orang yang masuk ke sorga, maka salah satunya pastilah orang Farisi. Namun, di sini Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa agama yang hendak dikukuhkan-Nya adalah bukan saja untuk menyingkirkan kejahatan, tetapi juga untuk melebihi kebaikan para ahli Taurat dan orang Farisi. Kita harus berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi daripada mereka, atau kita tidak akan masuk sorga. Mereka menjalankan hukum dengan setengah-setengah dan sangat menekankan bagian upacaranya. Karena itu, ibadah kita harus bersifat menyeluruh, tidaklah cukup bagi kita untuk hanya memberikan persepuluhan kepada hamba Tuhan. Lebih dari itu, kita harus memberikan hati kita kepada Allah. Para ahli Taurat dan kaum Farisi ini hanya peduli dengan bagian lahiriah saja, tetapi kita ini harus memperhatikan kesalehan batiniah. Tujuan mereka hanyalah untuk mendapatkan pujian dan penghargaan manusia, tetapi tujuan kita adalah perkenan dan penerimaan oleh Allah. Mereka bangga akan apa yang mereka jalankan dalam ibadah dan mempercayainya sebagai suatu kebenaran, tetapi kita, setelah melakukan semua itu, harus menyangkal diri, dan berkata, Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, dan hanya percaya kepada kebenaran Kristus semata. Dengan cara inilah kita akan melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

* Reformasi atas Penyimpangan terhadap Perintah Keenam (5:21-26)

    Setelah Kristus menetapkan aturan-aturan dasar ini, bahwa para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak lagi menjadi pemimpin mereka, tetapi bahwa Musa dan para nabi tetap ada, Ia melanjutkan penjelasan-Nya mengenai hukum Taurat dengan memberikan beberapa contoh tertentu dan membersihkannya dari tafsiran-tafsiran keliru yang telah diberikan para penafsir itu. Ia tidak menambahkan hal baru, namun hanya membatasi dan mengendalikan beberapa aturan hukum yang diperbolehkan namun telah disalahgunakan. Mengenai aturan-aturan itu, Ia menunjukkan keluasannya, ketegasannya, dan sifat rohani di dalamnya, sambil menambahkan peraturan yang bersifat menjelaskan agar mereka lebih memahaminya, dan ini bertujuan untuk menyempurnakan kepatuhan kita kepada peraturan-peraturan itu. Dalam ayat-ayat ini, Ia menjelaskan perintah keenam dari Sepuluh Perintah Allah sesuai dengan maksudnya yang sebenarnya dan sampai sejauh mana hukum tersebut berlaku.

I. Di sini perintah itu dikemukakan (ay. 21). Kamu telah mendengar, dan mengingatnya. Ia berbicara kepada mereka yang mengenal hukum Taurat, yang mendengarkan hukum Musa dibacakan di rumah ibadat setiap hari Sabat. Kamu telah mendengar hal itu dikatakan oleh mereka, atau lebih tepat, kepada nenek moyang kita, yaitu bangsa Yahudi, "Jangan membunuh." Perhatikanlah, hukum-hukum Allah bukanlah hukum-hukum yang baru dibuat, tetapi sudah diberikan kepada orang-orang sejak dahulu kala. Hukum-hukum-Nya merupakan hukum kuno, namun tidak pernah ketinggalan zaman ataupun menjadi usang. Hukum moral sejalan dengan hukum alam serta aturan-aturan dan alasan-alasan yang kekal mengenai yang baik dan yang jahat, yaitu kebenaran Akal Budi yang abadi. Di sini membunuh dilarang, baik membunuh diri sendiri, ataupun membunuh orang lain, langsung atau tidak langsung, ataupun terlibat dengan perbuatan itu dalam segala cara. Hukum Allah, Allah kehidupan ini, adalah pagar pelindung bagi kehidupan kita. Ini adalah salah satu peraturan nabi Nuh (Kej. 9:5-6).


II. Penjelasan para guru Yahudi atas perintah ini. Penjelasan mereka adalah, siapa yang membunuh harus dihukum. Hanya inilah yang dapat mereka katakan mengenai hukum membunuh tersebut, yaitu bahwa orang yang sengaja membunuh patut menerima pedang keadilan, sedangkan mereka yang membunuh secara tidak sengaja layak dihukum melarikan diri ke kota perlindungan (Bil.35). Tempat pengadilan terletak di gerbang kota-kota besar; biasanya para hakim berjumlah dua puluh tiga orang, dan mereka inilah yang mengadili, menjatuhkan hukuman dan melaksanakannya atas para pembunuh. Dengan demikian, siapa pun yang membunuh akan menerima penghukuman mereka. Sekarang, tafsiran mereka atas perintah ini ternyata keliru, sebab mengisyaratkan:

. Bahwa hukum dari perintah keenam ini hanyalah bersifat lahiriah, dan tidak melarang hal selain tindakan pembunuhan itu saja. Tafsiran mereka tidak mengekang nafsu batin, yang merupakan sumber timbulnya sengketa dan pertengkaran. Ini benar-benar merupakan prōton pseudos -- kesalahan mendasar para guru Yahudi, yaitu bahwa hukum ilahi hanya melarang perbuatan dosa dan tidak melarang pikiran yang berdosa pula. Mereka hanya terpaku pada hærere in cortice -- bersandar pada huruf-huruf dalam hukum Taurat, dan tidak pernah menggali makna rohaninya. Ketika masih menjadi orang Farisi, Paulus juga demikian, sampai melalui pengertian akan perintah kesepuluhlah, anugerah ilahi menuntunnya ke dalam pengetahuan akan segi rohani dari perintah-perintah lainnya (Rm. 7:7-14).
        . Kesalahan mereka yang lain adalah bahwa mereka menganggap hukum ini hanya bersifat politis dan terbatas untuk bangsa Yahudi semata, diberikan untuk mereka saja, dan dimaksudkan hanya sebagai pedoman bagi pengadilan mereka semata; seakan-akan hanya bangsa mereka sajalah satu-satunya yang ada dan kebijakan hukum itu pastilah harus menjadi milik mereka saja.


III. Uraian yang diberikan Kristus mengenai perintah ini.
Kita yakin bahwa menurut uraian-Nya kita kelak pasti dihakimi, dan oleh sebab itu, kita harus mengetahui aturan itu sekarang. Perintah-Nya luas sekali, dan tidak dibatasi oleh keinginan daging atau kehendak manusia.
        . Kristus mengatakan kepada mereka bahwa kemarahan tanpa pikir panjang sama saja dengan membunuh dalam hati (ay. 22). Setiap orang yang marah terhadap saudaranya (KJV menambahkan: tanpa sebab) telah melanggar perintah keenam. Kita harus memahami bahwa yang dimaksudkan dengan saudara di sini adalah siapa saja, meskipun kedudukannya jauh di bawah kita, misalnya anak atau pelayan, sebab kita semua diciptakan dari satu darah. Kemarahan adalah gejolak hati yang alami. Ada beberapa perkara yang membuat kemarahan sah-sah saja dan bahkan terpuji. Tetapi hal ini akan disebut dosa apabila kita marah tanpa sebab. Istilahnya adalah eikÄ”, yang berarti sine causâ, sine effectu, et sine modo -- tanpa sebab, tanpa pengaruh yang baik, tanpa penguasaan diri. Jadi, kemarahan merupakan dosa:
            (1) Apabila terjadi tanpa ada yang memancingnya, yakni tanpa suatu sebab, atau tanpa suatu sebab yang pantas, atau tanpa suatu sebab yang besar dan masuk akal. Misalnya, kita marah kepada anak-anak atau pembantu karena kita tidak bisa menahan diri, padahal yang mereka lakukan hanyalah kealpaan atau kesalahan kecil saja yang kita sendiri juga mudah lakukan, dan yang tentangnya kita tidak perlu kesal terhadap diri sendiri. Contoh lain lagi, yaitu bila kita marah terhadap prasangka-prasangka yang tidak berdasar atau celaan sepele yang tidak layak dipermasalahkan.
            (2) Apabila dilakukan tanpa suatu tujuan yang baik, melainkan hanya sekadar untuk memamerkan kekuasaan, memuaskan nafsu kedagingan, untuk menunjukkan kekesalan kita kepada orang, dan memanasi diri guna membalas dendam. Kemarahan semacam ini sia-sia sifatnya, hanya menyakiti hati saja. Jika kita sewaktu-waktu marah, ini haruslah dengan tujuan menyadarkan orang yang bersalah itu agar bertobat dan mencegahnya mengulangi perbuatan itu; atau, untuk membela diri (2Kor. 7:11), dan untuk memperingatkan orang lain.
            (3) Apabila melampaui batas, bila kita bersikap keras kepala dalam kemarahan kita, kasar dan keras, mengamuk dan bertindak jahat, serta bermaksud menyakiti orang-orang yang tidak kita sukai. Ini adalah pelanggaran terhadap perintah keenam, sebab orang yang marah seperti ini akan membunuh seandainya mampu dan berani melakukannya. Ia telah mengambil langkah pertama untuk membunuh. Kain membunuh adiknya karena diawali kemarahan. Dalam pemandangan Allah, Kain adalah seorang pembunuh, karena Allah mengenal hatinya, yang merupakan sumber keinginan untuk membunuh (15:19).

. Kristus berkata kepada mereka bahwa menggunakan kata-kata keji kepada saudara kita adalah pembunuhan dengan lidah, seperti misalnya menyebutnya kafir dan jahil. Apabila ini dilakukan dengan halus dan untuk tujuan baik, untuk menyadarkan orang lain akan kesia-siaan dan kebodohan mereka, ini bukanlah dosa. Karena itu, kita temukan Yakobus berkata, "Hai manusia yang bebal"), sedangkan Paulus berkata, "Hai orang bodoh", dan Kristus sendiri berkata, "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu". Namun, jika kata-kata itu keluar karena kemarahan dan kebencian, ini bagaikan asap dari api yang dinyalakan dari neraka.
            (1) Kafir adalah perkataan yang menghina dan keluar dari kesombongan. Ucapan "Kamu orang yang tidak berguna" adalah kata-kata yang disebut Salomo sebagai pencemooh yang sombong (Ams. 21:24), yang menginjak-injak saudara kita -- yang dipandang terlalu hina untuk ditempatkan bersama-sama dengan anjing penjaga kambing domba. Tutur kata lain yang seperti ini adalah, "Orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka" (Yoh. 7:49).
            (2) Jahil adalah istilah yang penuh rasa dendam dan berasal dari kebencian. Kata ini bukan saja menganggap orang tersebut jahat dan tidak layak dihormati, tetapi juga kotor dan tidak pantas dikasihi. "Kamu manusia fasik, manusia celaka." Perkataan pertama di atas berbicara tentang orang yang tidak punya akal, perkataan kedua ini (dalam istilah alkitabiah) artinya orang tanpa anugerah. Semakin teguran itu menyentuh keadaan rohaninya, semakin jahat dia jadinya. Sebutan pertama merupakan ejekan penuh kecongkakan terhadap saudara kita, sebutan kedua adalah kecaman yang jahat dan mengutuk dirinya, seakan ia dibuang Allah. Ini adalah pelanggaran terhadap perintah keenam. Fitnah yang jahat dan kecaman seperti bisa di bawah lidah, membunuh dengan diam-diam dan perlahan. Kata yang pahit seperti panah yang meluncur dengan tiba-tiba (Mzm. 140:4), atau seperti pedang yang menusuk tulang. Dengan demikian, nama baik sesama kita, yang lebih baik daripada hidup itu sendiri, telah ditikam dan dibunuh. Ini membuktikan bahwa perkataan demikian, kalau kita lakukan, memiliki keinginan jahat yang bisa menghantam kehidupan sesama kita.

. Kristus berkata kepada mereka, bahwa seringan apa pun mereka menganggap dosa-dosa ini, suatu saat mereka pasti harus mempertanggungjawabkan semuanya. Orang yang marah terhadap saudaranya berada dalam bahaya akan dihukum dan dimurkai Allah. Orang yang berkata, "Kafir!" harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan dihukum oleh dewan Sanhedrin karena mencerca orang Israel. Tetapi siapa yang berkata, "Jahil, orang celaka, anak neraka," akan diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala karena mengutuki saudaranya, begitulah yang dikatakan Dr. Whitby yang cendekia itu. Beberapa orang berpikir bahwa, dengan secara tidak langsung mengacu kepada berbagai hukuman yang dijatuhkan dalam pengadilan orang Yahudi, Kristus menunjukkan bahwa dosa, akibat kemarahan yang dilakukan tanpa pikir panjang itu, memperhadapkan orang pada hukuman yang lebih ringan atau berat, sesuai dengan derajat perkembangannya. Orang Yahudi memiliki tiga macam hukuman berat, dengan tingkatan yang berbeda-beda beratnya. Hukuman pancung yang dijatuhkan pengadilan, hukuman dirajam dengan batu yang dijatuhkan oleh dewan Sanhedrin, dan hukuman dibakar di Lembah Ben-Hinom yang hanya dilakukan untuk perkara-perkara luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa, walaupun kemarahan tanpa pikir panjang dan tutur kata penuh kecaman termasuk dosa mengutuk, sebagian di antaranya lebih jahat daripada yang lainnya, dan oleh karena itu ada kutukan dan hukuman yang lebih berat lagi yang tersedia bagi dosa-dosa ini. Dengan demikian Kristus menunjukkan dosa mana yang paling jahat, yaitu dengan menyatakan hukuman yang paling mengerikan bagi dosa tersebut.


IV. Dari semua hal ini,
di sini dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus memelihara dengan cermat kasih dan perdamaian kristiani di antara sesama saudara. Setiap kali terjadi pelanggaran, kita harus berusaha keras menciptakan perdamaian dengan mengakui kesalahan kita, merendahkan diri terhadap saudara kita, meminta maaf kepadanya, dan mengadakan pemulihan atau menawarkan ganti rugi bagi kesalahan yang telah kita perbuat, baik dalam perkataan maupun perbuatan, sesuai permasalahannya. Semua ini harus segera kita lakukan karena dua alasan:

. Sebab sebelum hal-hal ini dilaksanakan, kita sama sekali tidak layak berhubungan dengan Allah dengan segala ketetapan-Nya yang kudus (ay. 23-24). Perkara yang dibicarakan adalah, "Sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau," bahwa engkau telah melukai dan menyakiti hatinya, baik memang demikian halnya maupun menurut pengertian saudara itu. Jika engkau pihak yang disakiti, jangan menundanya. Jika ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, janganlah memperpanjang urusan, tidak ada lagi yang patut dilakukan selain mengampuninya (Mrk. 11:25) dan memaafkan luka yang telah ditimbulkannya. Tetapi jika perselisihan itu diawali di pihakmu, dari sejak awal atau sesudahnya itu adalah kesalahanmu, sehingga timbul sesuatu dalam hati saudaramu, pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, sebelum mempersembahkan persembahanmu di mezbah, sebelum engkau menghampiri Allah dengan khidmat dalam ibadah Injili melalui doa dan pujian, sambil mendengarkan firman yang disampaikan selama ibadah. Perhatikanlah:
            (1) Dalam menjalankan kegiatan ibadah dalam bentuk apa saja, alangkah baiknya bagi kita untuk menyediakan waktu untuk merenung dan memeriksa diri kita. Ada begitu banyak hal yang harus kita ingat saat membawa persembahan ke atas mezbah, dan salah satunya adalah, apakah ada sesuatu dalam hati saudara kita terhadap diri kita; dan jika sekiranya memang ada sesuatu masalah, maka kita harus bersungguh-sungguh untuk menyelesaikannya lebih dulu.
            (2) Kegiatan ibadah tidak akan diterima Allah apabila kita menjalankannya dengan hati dalam keadaan marah. Iri hati, keinginan untuk berbuat jahat, dan ketiadaan belas kasihan merupakan dosa-dosa yang sangat tidak menyukakan hati Allah. Tiada lain lagi yang begitu mendukakan Dia selain hati yang dipenuhi dengan dosa-dosa ini (1Tim. 2:8). Doa-doa yang dirancang dengan kemarahan bagaikan ditulis dengan empedu (Yes. 1:15; 58:4).
            (3) Kasih dan kemurahan hati jauh lebih baik daripada korban sembelihan dan korban-korban bakaran, sedemikian baiknya hingga Allah lebih menghendaki bila perdamaian dengan saudara yang disakiti itu diselesaikan terlebih dahulu sebelum persembahan kepada diri-Nya sendiri dihaturkan. Ia lebih suka menunggu daripada menerima persembahan yang kita berikan dalam keadaan masih bersalah dan terlibat perselisihan dengan seorang saudara.
            (4) Walaupun kita tidak layak untuk bersekutu dengan Allah, kalau kita masih terus bertengkar dengan saudara kita, namun, hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak melakukan atau melalaikan kewajiban kita, "Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu, sebab bila tidak, setelah pergi, engkau tergoda untuk tidak kembali lagi." Banyak orang memakai hal ini sebagai alasan mengapa mereka tidak datang ke gereja atau persekutuan, yaitu karena mereka sedang berselisih pendapat dengan sesama. Salah siapakah ini sebenarnya? Satu dosa tidak akan pernah dapat menjadi dalih untuk melakukan dosa yang lain, sebaliknya itu justru melipatgandakan kesalahan itu. Kekurangan kasih terhadap sesama tidak dapat membenarkan kekurangan kesalehan. Sebenarnya, kesulitan ini mudah saja diatasi. Kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, dan bila kita bersalah terhadap orang lain, kita harus membereskannya, atau setidaknya memperbaiki keadaannya, dan menginginkan pembaruan persahabatan, sehingga bila tidak tercapai perdamaian sekalipun, itu bukanlah kesalahan kita. Lalu kembalilah, kembali dan selamat datang, kembali dan persembahkan persembahanmu itu, dan persembahan itu akan diterima. Oleh sebab itu janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu pada hari itu, sebab kita harus berdoa sebelum pergi tidur. Lebih-lebih lagi, janganlah sampai matahari terbit sebelum padam amarahmu pada hari Sabat, sebab ini adalah hari doa.

. Karena sebelum ini dilaksanakan, kita menghadapi ancaman besar (ay. 25-26). Sungguh berbahaya apabila kita tidak berusaha keras untuk berdamai, dan ini harus dilakukan dengan segera, karena dua tanggung jawab:

(1) Tanggung jawab sementara. Jika pelanggaran yang telah kita lakukan terhadap saudara kita, baik terhadap tubuh jasmani, harta, maupun nama baiknya, sedemikian besarnya hingga dapat mendatangkan kerugian besar baginya, maka kita harus bijaksana, dengan mengingat kewajiban kita terhadap keluarga kita, untuk mencegah terjadinya hal itu dengan bersikap rendah hati dan mengusahakan pemulihan yang adil dan damai. Sebab, jika kita tidak melakukan hal ini, bisa-bisa orang itu akan menuntut kita secara hukum dan, yang lebih buruk lagi, kita dipenjarakan. Karena itu, lebih baik kita berdamai dan menyelesaikan masalahnya daripada bersikeras dengan masalah tersebut. Sebab sia-sia saja untuk menentang hukum, karena ada bahaya kita bisa terlindas olehnya. Banyak orang hanya menghancurkan diri mereka sendiri karena bersikeras dengan pelanggaran yang mereka lakukan terhadap orang lain, padahal sebenarnya masalahnya dapat didamaikan asalkan mereka mau bersedia pada awalnya. Saran Salomo supaya kita aman-aman saja adalah, "pergilah, berlututlah, dan dengan demikian tetapkan hatimu supaya engkau bisa melepaskan dirimu" (Ams. 6:1-5). Sungguh baik untuk membuat kesepakatan, sebab hukum mahal harganya. Seperti kita harus berbelas kasihan terhadap orang-orang yang kita kuasai, maka kita juga harus berbuat adil terhadap mereka yang menguasai kita, semampu kita. "Buatlah kesepakatan dan segeralah berdamai dengan lawanmu, jangan sampai ia merasa kesal dengan sikap keras kepalamu itu dan terdorong untuk menuntut engkau seberat-beratnya dan tidak bersedia lagi untuk berdamai, yang mungkin sedianya mau dilakukannya." Penjara merupakan tempat yang menyengsarakan bagi orang-orang yang dijebloskan ke dalamnya karena kesombongan, kedegilan, keras kepala, dan kebodohan mereka sendiri.

(2) Tanggung jawab rohani. "Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, bersikap adil terhadapnya, bersahabat dengannya, sebab bila perselisihan ini terus berlangsung, maka, sama seperti engkau tidak layak untuk mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan tidak layak untuk datang ke meja TUHAN, demikian pula kematianmu nanti juga menjadi tidak layak. Jika engkau bertahan di dalam dosa ini, ada bahaya engkau akan disambar murka Allah, dan penghakiman-Nya tidak akan dapat kamu hindari atau tolak. Jika kesalahan itu ditimpakan ke atasmu, engkau akan binasa selamanya." Neraka adalah penjara bagi semua orang yang hidup dan mati dalam kejahatan dan kebengisan, bagi semua orang yang hanya mencari kepentingan sendiri (Rm. 2:8), dan dari penjara itu, tidak ada penyelamatan, penebusan, dan jalan keluar lain lagi, sampai selama-lamanya.

Semuanya ini juga berlaku sepenuhnya dalam hubungan pendamaian kita dengan Allah melalui Kristus. Segeralah berdamai dengan Dia selama engkau masih di tengah jalan. Perhatikanlah:

                [1] Allah yang mahakuasa itu adalah Lawan bagi semua pendosa, Antidikos -- lawan secara hukum. Ia bertentangan dengan mereka, bertindak melawan mereka.
                [2] Sudah menjadi urusan kita untuk berdamai dengan-Nya, untuk mengenal Dia, supaya kita merasa tenteram (Ayb. 22:21; 2Kor. 5:20).
                [3] Kita harus bijaksana untuk melakukan ini dengan segera, sementara kita masih berada di tengah perjalanan. Kalau mati, sudah terlambat untuk melakukannya. Oleh sebab itu, janganlah membiarkan matamu tidur sampai hal ini dilakukan.
                [4] Mereka yang terus bermusuhan dengan Allah, akan selalu berhadapan dengan jerat keadilan-Nya dan murka-Nya yang mengerikan. Kristus adalah Sang Hakim itu, dan kepada-Nya semua pendosa yang tidak mau bertobat akan diserahkan, sebab Sang Bapa telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak. Dia yang telah ditolak sebagai Juruselamat tidak dapat dihindari sebagai Hakim (Why. 6:16-17). Sungguh menakutkan untuk diserahkan seperti itu kepada Tuhan Yesus, karena Sang Anak Domba akan menjadi Singa. Para pendosa ini akan diserahkan kepada malaikat-malaikat, yang adalah para pambantu Kristus (13:41-42). Demikian pula dengan roh-roh jahat, yang berkuasa atas maut, untuk menjadi pelaksana hukuman atas semua orang yang tidak percaya (Ibr. 2:14). Neraka menjadi penjara tempat orang-orang yang terus bermusuhan dengan Allah akan dicampakkan (2Ptr. 2:4).
                [5] Orang berdosa yang dikutuk harus tetap di situ sampai selamanya. Mereka tidak akan keluar dari sana, sebelum membayar utang mereka sampai lunas, dan ini tidak akan berakhir sampai selamanya. Demikianlah keadilan ilahi akan selamanya memuaskan, namun tidak pernah terpuaskan.


BcO Filipi 3:1-16

Kebenaran yang sejati
3:1 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (#3-#1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu. 3:2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, 3:3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. 3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: 3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, 3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. 3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. 3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, 3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. 3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. 3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. 3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. 3:15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. 3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.



___



Daftar Label dari Kategori Renungan Katolik 2024
Lagu Anak(1)




Nama-Nama Bayi Katolik Terlengkap

Kalender Liturgi Katolik 2024 dan Saran Nyanyian

Kalender Liturgi Katolik Juni 2024 dan Saran Nyanyian


Orang Kudus Katolik Dirayakan Juni
Santo-Santa 22 Juni - Santo Paulinus dari Nola (Uskup dan Pengaku Iman), Santo Thomas Moore (Martir), Santo Yohanes Fischer (Uskup dan Martir), Beata Yulia Billiart (Biarawati)

MAZMUR TANGGAPAN & BAIT PENGANTAR INJIL
- PASKAH
- KENAIKAN
- PENTAKOSTA
- BIASA



NEXT:
Renungan Katolik Jumat, 14 Juni 2024 - Hari Biasa - Matius 5:27-32 - BcO Filipi 3:17-4:9

PREV:
Renungan Katolik Rabu, 12 Juni 2024 - Hari Biasa - Matius 5:17-19 - BcO Filipi 2:12-30





Arsip Renungan Katolik 2024..


Jadwal Misa Gereja Seluruh Indonesia
1. Map/Peta Gereja Katolik di Jakarta
2. Map/Peta Gereja Katolik di Surabaya
3. Map/Peta Gereja Katolik di Makassar
4. Map/Peta Gereja Katolik di Bandung
5. Map/Peta Gereja Katolik di Medan
6. Map/Peta Gereja Katolik di Depok
Agustus - Hati Maria Yang Tidak Bernoda(3)
April - Sakramen Maha Kudus (6)
Bulan Katekese Liturgi(5)
Bulan November - Jiwa-jiwa Kudus di Api penyucian(4)
Bulan Oktober - Bulan Rosario(1)
Bulan Oktober - Bulan Rosario suci(4)
Desember - Bunda Maria yang dikandung tanpa noda(4)
Februari - Keluarga Kudus Yesus Maria Yosep(5)
Ibadah(1)
Januari - Bulan menghormati Nama Yesus(5)
Juli - Darah Mulia(2)
Juni - Hati Kudus Yesus(10)
Maret - Pesta St. Yosep(3)
Mei - Bulan Maria(8)
Penutup Bulan Rosario(1)
Peringatan Arwah(2)
Rabu Abu(1)
SEPTEMBER - TUJUH DUKA MARIA(7)