misa.lagu-gereja.com
 
Sabtu, 15 Juni 2024
Hari Biasa
1Raj 19:19-21; Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10;
Matius 5:33-37
BcO Filipi 4:10-23
Warna Liturgi Hijau

Baca Juga:


Matius 5:33-37
5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Penjelasan:


* Reformasi atas Penyimpangan terhadap Perintah Ketiga (5:33-37)

Di sini diuraikan tentang perintah ketiga, yang semakin perlu kita pahami, terutama karena perintah ini mengatakan bahwa TUHAN akan memandang bersalah orang yang melanggar perintah ini, sekalipun dia memandang dirinya tidak bersalah, yaitu bila orang tersebut menyebut nama TUHAN dengan sembarangan. Berkaitan dengan perintah ini:

I. Telah disepakati oleh semua pihak bahwa orang dilarang bersumpah palsu, makan sumpah, dan melanggar sumpah serta janji (ay. 33). Hal ini dikatakan kepada nenek moyang mereka, dan ini adalah tujuan serta makna sebenarnya dari perintah ketiga itu. Janganlah engkau menggunakan atau menyebut nama TUHAN (seperti yang kita lakukan saat mengangkat sumpah) dengan sembarangan, atau untuk maksud yang sia-sia, atau berdusta. Dia yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, diperjelaskan dalam kata-kata berikutnya, yang tidak bersumpah palsu (Mzm. 24:4). Bersumpah palsu adalah dosa yang dihukum sesuai hukum alam, karena dilakukan ketidaksalehan terhadap Allah dan ketidakadilan terhadap manusia. Selain itu, dosa ini juga sangat mendatangkan murka Allah bagi orang yang bersangkutan, dan murka Allah ini akan selalu mengikuti dosa itu sedemikan rupa sehingga segala sumpah yang dibuat itu biasanya akan berubah menjadi umpatan atau kutuk. Mengenai hal ini, beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu, dan mengenai kami, tolonglah aku, ya TUHAN; lebih baik aku tidak pernah mendapatkan pertolongan dari Allah lagi jika aku bersumpah palsu. Demikianlah, dengan persetujuan segala bangsa, manusia telah mengutuk diri mereka sendiri, dan mereka juga tidak ragu bahwa Allah akan mengutuk mereka jika mereka berdusta terhadap kebenaran dan memanggil Allah untuk menjadi saksi.

Kemudian, dari ayat-ayat lain ditambahkan juga kata-kata, "melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan" (Bil. 30:2), yang dapat berarti:

. Janji-janji yang melibatkan Allah dan ditujukan kepada Allah harus ditepati (Pkh. 5:4-5), atau

. Janji-janji yang dibuat kepada saudara-saudara kita, dengan Allah sebagai Saksi, dimaksudkan bahwa Dia dipanggil untuk menyatakan bahwa kita bersungguh-sungguh dengan janji itu. Hal-hal ini harus dilakukan bagi Tuhan dengan mata yang tertuju kepada-Nya dan demi kepentingan-Nya. Sebab bagi Dia, dengan mengesahkan janji-janji dalam bentuk sumpah, kita telah membuat diri kita menjadi orang yang berutang. Bila kita melanggar janji yang telah disahkan seperti itu, kita bukan hanya mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.

II. Di sini ditambahkan bahwa perintah itu bukan saja melarang sumpah palsu, tetapi juga semua sumpah yang gegabah dan tidak perlu, Janganlah sekali-kali bersumpah (ay. 34; bdk. Yak. 5:12). Ini bukan berarti bahwa semua sumpah adalah dosa. Jika sumpah dilakukan dengan benar, itu juga termasuk bagian dari ibadah, dan di dalamnya kita memberi kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya (Ul. 6:13; 10:20; Yes. 45:23; Yer. 4:2). Kita tahu Paulus menegaskan perkataannya dengan sungguh-sungguh melalui cara-cara demikian (2Kor. 1:23), ketika cara-cara tersebut memang diperlukan. Dalam mengucapkan sumpah, kita menjamin kebenaran suatu hal yang telah dikenal, atau menegaskan kebenaran dari suatu hal yang meragukan atau tidak diketahui. Dengan membuat sumpah, kita sedang menantang dilakukannya suatu pembuktian yang lebih tinggi, berseru kepada suatu mahkamah yang lebih tinggi, dan mengharapkan pembalasan dari seorang Hakim yang adil, jika kita bersumpah palsu.

Sekarang, pemikiran Kristus mengenai masalah sumpah ini adalah:

. Agar kita jangan sekali-kali bersumpah. Namun, bila kita memang harus melakukannya demi keadilan atau kebaikan terhadap saudara kita, atau demi menghormati pemerintah, buatlah seperlunya untuk mengakhiri segala bantahan (Ibr. 6:16), dan untuk keperluan ini, pada umumnya pejabat sipillah yang bertindak sebagai hakim. Kita boleh saja diambil sumpah kita, terpaksa mengucapkan sumpah, diminta dengan sangat sehingga berkewajiban melakukannya, tetapi janganlah kita melakukannya demi mencari keuntungan duniawi bagi diri kita sendiri.

. Agar kita tidak begitu saja bersumpah dengan seenaknya ketika sedang bercakap-cakap. Kalau kita melakukannya, ini sungguh merupakan suatu dosa yang besar, karena kita menaikkan seruan-seruan yang tidak pada tempatnya pada sorga yang mulia, yang adalah suci adanya dan yang seharusnya diperlakukan dengan sungguh. Perilaku ini merupakan pelecehan besar terhadap nama Allah yang suci, dan terhadap salah satu hal suci yang sangat dihormati oleh umat Israel. Ini adalah dosa yang tidak dapat ditutupi, tidak dapat diberikan dalih, dan oleh sebab itu merupakan tanda bahwa orang yang melakukan hal demikian mempunyai hati yang jahat, yang di dalamnya berkuasa rasa permusuhan terhadap Allah. Orang fasik menyebut nama-Mu dengan sia-sia.

. Agar kita teristimewa menghindari membuat sumpah yang berisi janji untuk melakukan sesuatu, yang secara khusus dibicarakan oleh Kristus di sini, sebab sumpah yang demikian merupakan janji yang harus dipenuhi. Suatu sumpah yang sifatnya hanya untuk menegaskan sesuatu, pengaruhnya akan langsung berhenti pada saat kita berhasil mengungkapkan kebenarannya, seluruh kebenarannya; namun sumpah yang menjanjikan sesuatu sifatnya mengikat untuk jangka waktu yang lama, sehingga bisa saja dilanggar dengan berbagai cara, baik karena dorongan maupun desakan suatu godaan. Karena itu, sumpah yang demikian janganlah digunakan kecuali kalau sangat diperlukan. Persyaratan penggunaan sumpah menjadi cerminan bagi orang Kristen, di mana mereka seharusnya diakui karena kesetiaannya, perkataan mereka yang bijaksana harus sama kudusnya dengan sumpah yang mereka ucapkan dengan sepenuh hati.

. Agar kita tidak bersumpah demi ciptaan mana pun. Tampaknya ada sebagian orang yang karena rasa hormat (menurut pikiran mereka) terhadap nama Allah, tidak mau menggunakan nama tersebut dalam bersumpah, dan sebagai gantinya mereka bersumpah saja demi langit atau bumi dan sebagainya. Hal ini juga dilarang Kristus di sini (ay. 34). Ia menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang boleh kita gunakan untuk bersumpah, karena semua ciptaan ini, dalam satu dan lain cara, ada kaitannya dengan Allah, yang adalah Sumber segala yang ada. Itulah sebabnya bersumpah demi segala hal tadi sama berbahayanya dengan bersumpah demi Allah sendiri, karena kebenaran ciptaan itu sendirilah yang dipertaruhkan. Jadi, cara ini bukan merupakan suatu sarana kesaksian, karena ia berurusan dengan Allah, yang adalah summum verum -- Kebenaran yang utama. Sebagai contoh:

(1) Janganlah sekali-kali bersumpah demi langit, "Sepasti adanya langit, sepasti itu juga kebenaran yang kukatakan." Alasan larangan ini adalah karena langit adalah takhta Allah, tempat Ia tinggal dan menyatakan kemuliaan-Nya secara khusus, sebagai Raja yang duduk di takhta-Nya. Ini adalah martabat sorga yang tidak bisa dipisahkan, engkau tidak dapat bersumpah demi langit tanpa bersumpah demi Allah sendiri.

(2) Maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya. Allah menguasai semua pergerakan dari dunia bawah ini. Sama seperti Dia memerintah di sorga, demikian pula Dia memerintah atas bumi ini, yang meskipun berada di bawah kaki-Nya, juga berada di bawah perhatian dan pemeliharaan-Nya serta berkaitan dengan Dia sebagai milik kepunyaan-Nya (Mzm. 24:1). TUHANlah yang empunya bumi, jadi dengan bersumpah demi bumi, Anda bersumpah demi Pemiliknya juga.

(3) Ataupun demi Yerusalem, tempat yang begitu dipuja orang Yahudi, hingga tidak ada tempat kudus lainnya lagi yang dapat mereka pakai untuk bersumpah. Secara umum Yerusalem memang berkaitan dengan Allah, yaitu sebagai bagian dari bumi, namun, selain itu, kota ini juga memiliki hubungan khusus dengan diri-Nya, karena ia adalah kota Raja Besar (Mzm. 48:3), kota Allah (Mzm. 46:5). Oleh karena itu, Allah turut berkepentingan dengan Yerusalem dan dengan setiap sumpah yang dibuat demi namanya.

(4) "Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu. Sekalipun kepala itu melekat dan menjadi bagian penting dari dirimu, Allah tetap lebih berhak memilikinya daripada engkau. Sebab Dialah yang menciptakannya dan membentuk setiap bagian dan kekuatannya, sedangkan engkau sendiri, dengan kekuatan alami yang ada pada dirimu engkau tidak mampu mengubah warna, walau hanya sehelai rambut pun, untuk membuatnya putih atau hitam. Jadi engkau tidak boleh bersumpah demi kepalamu, tetapi bersumpahlah demi Dia yang adalah Kekuatanmu dan yang mengangkat kepalamu" (Mzm. 3:4).

(5) Agar dengan demikian, dalam seluruh percakapan, kita harus cukup puas dengan berkata, "Ya," jika ya dan berkata "Tidak," jika tidak (ay. 37). Dalam percakapan biasa, saat menegaskan sesuatu, hendaklah kita hanya berkata, "Ya," kalau memang demikian halnya. Bila perlu, untuk membuktikan keyakinan kita terhadap sesuatu, kita boleh melipatgandakannya dan berkata, "Ya, benar, sungguh demikianlah halnya." Juruselamat kita menggunakan istilah, "Sesungguhnya," sebagai pengganti kata ya. Jadi, jika kita menyangkali sesuatu, sudah cukup untuk berkata, "Tidak," atau bila perlu, mengulangi penyangkalan itu dan berkata, "Tidak, tidak," dan bila kejujuran kita telah dikenal orang, hal itu saja sudah cukup bagi kita dalam mendapatkan penghargaan dari orang lain. Seandainya perkataan kita dipertanyakan, maka mendukung pernyataan kita dengan bersumpah dan mengutuk hanyalah akan membuat masalah semakin mencurigakan. Orang yang mampu membuat sumpah yang sia-sia juga tidak sulit untuk berdusta. Patut disayangkan bila apa yang disampaikan Kristus kepada semua murid-Nya untuk mereka beritakan ini masih dilekatkan suatu sekte yang memiliki berbagai kekeliruan, sementara (seperti yang dikatakan Dr. Hammond) kita tidak dilarang mengatakan sesuatu di luar ya dan tidak, asalkan dengan cara yang sesuai penggunaannya.

Alasannya dapat dilihat, Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat, walau ini tidak berarti kesalahan dari sebuah sumpah. Menurut uraian zaman dahulu, sumpah berasal ek tou Diabolou atau berasal dari Iblis, si jahat. Sumpah timbul sebagai akibat dari rusaknya sifat manusia, dari nafsu dan hawa nafsu berapi-api, dari kesia-siaan yang menguasai pikiran, dan dari kebencian terhadap hal-hal yang kudus. Ia berasal dari tipu daya yang ada dalam diri manusia, Semua manusia pembohong. Oleh sebab itu manusia menggunakan pernyataan-pernyataan untuk meneguhkan sesuatu seperti ini, sebab mereka saling tidak percaya dan beranggapan bahwa mereka tidak akan dipercaya jika tanpa bersumpah. Perhatikanlah, demi nama baik agama mereka, orang Kristen bukan saja harus menghindari hal-hal yang memang jahat, melainkan juga yang berasal dari si jahat dan yang menyerupainya. Hal-hal yang berasal dari maksud yang jahat dapat dicurigai sebagai hal yang jahat. Sumpah itu bagaikan obat, yang menunjukkan adanya penyakit.


BcO Filipi 4:10-23

Terima kasih atas pemberian jemaat
4:10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 4:14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 4:16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 4:18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. 4:20 Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.
Salam
4:21 Sampaikanlah salamku kepada tiap-tiap orang kudus dalam Kristus Yesus. Salam kepadamu dari saudara-saudara, yang bersama-sama dengan aku. 4:22 Salam kepadamu dari segala orang kudus, khususnya dari mereka yang di istana Kaisar. 4:23 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu!



___



Daftar Label dari Kategori Renungan Katolik 2024
Lagu Anak(1)




Nama-Nama Bayi Katolik Terlengkap

Kalender Liturgi Katolik 2024 dan Saran Nyanyian

Kalender Liturgi Katolik Juni 2024 dan Saran Nyanyian


Orang Kudus Katolik Dirayakan Juni
Santo-Santa 22 Juni - Santo Paulinus dari Nola (Uskup dan Pengaku Iman), Santo Thomas Moore (Martir), Santo Yohanes Fischer (Uskup dan Martir), Beata Yulia Billiart (Biarawati)

MAZMUR TANGGAPAN & BAIT PENGANTAR INJIL
- PASKAH
- KENAIKAN
- PENTAKOSTA
- BIASA



NEXT:
Renungan Katolik: Hari Minggu Biasa XI 2024 - Markus 4:26-34 & Yesaya 44:12-45:3

PREV:
Renungan Katolik Jumat, 14 Juni 2024 - Hari Biasa - Matius 5:27-32 - BcO Filipi 3:17-4:9





Arsip Renungan Katolik 2024..


Jadwal Misa Gereja Seluruh Indonesia
1. Map/Peta Gereja Katolik di Jakarta
2. Map/Peta Gereja Katolik di Surabaya
3. Map/Peta Gereja Katolik di Makassar
4. Map/Peta Gereja Katolik di Bandung
5. Map/Peta Gereja Katolik di Medan
6. Map/Peta Gereja Katolik di Depok
Agustus - Hati Maria Yang Tidak Bernoda(3)
April - Sakramen Maha Kudus (6)
Bulan Katekese Liturgi(5)
Bulan November - Jiwa-jiwa Kudus di Api penyucian(4)
Bulan Oktober - Bulan Rosario(1)
Bulan Oktober - Bulan Rosario suci(4)
Desember - Bunda Maria yang dikandung tanpa noda(4)
Februari - Keluarga Kudus Yesus Maria Yosep(5)
Ibadah(1)
Januari - Bulan menghormati Nama Yesus(5)
Juli - Darah Mulia(2)
Juni - Hati Kudus Yesus(10)
Maret - Pesta St. Yosep(3)
Mei - Bulan Maria(8)
Penutup Bulan Rosario(1)
Peringatan Arwah(2)
Rabu Abu(1)
SEPTEMBER - TUJUH DUKA MARIA(7)